Sabtu, 06 Agustus 2011

LOVE IT’S HURT


LOVE IT’S HURT
Hari semakin larut, kulihat jam ditangan ku menunjukan pukul 08:00 malam, tapi zhi tak kunjung tiba menjemputku, hampir 1 jam aku menunggu nya. Aku lea, aku seorang photografer sebuah studio di Jakarta.
“ hallo zhi..kamu dimana? aku udah nunggu kamu hampir satu jam nih,,kamu beneran gak sih mau jemput aku?” Tanya ku pada zhi lewat telfon.
“maaf le, aku ketiduran, aku lupa mau jemput kamu…tunggu yah aku jemput sekarang..” jelasnya.
Zhi adalah pacar ku, sudah hampir 2 tahun hubungan ku dan zhi berjalan, tapi sifat zhi yang pelupa tidak pernah berubah, ia selalu saja lupa menjemputku padahal ia sudah berjanji akan menjemput ku.
“ Sudah deh aku pulang sendiri saja naik taksi..!! lain kali kamu gak usah deh janji-janji mau jemput aku.” bentakku dan langsung saja kututup telfon ku. Tak berselang lama sebuah taksi berhenti tepat didepan studio ku, kebetulan sekali, dalam hati ku berucap. Ku lihat seorang wanita cantik keluar dari dalam taksi dan melemparkan senyumannya kepada ku, bagi ku seperti tidak asing lagi wajah wanita itu,
”lea....” ia menyapa ku. Loh wanita itu mirip sekali dengan teman ku.
”le.. kenapa kamu diam aja sih..aku dien le.. kamu lupa sama aku?” Aku pun terkejut setelah mengetahui bahwa wanita itu adalah dien, teman sekolah ku dulu sewaktu SMP.
”dien... ya ampun kamu cantik banget.. beda banget... aku samapai gak ngenalin kamu....” ujar ku yang sangat terkejut hingga tak mengenali sahabat ku itu.
”jahat kamu le... aku kan kangen sama kamu...”ledek dien pada ku.
”ah kamu bisa aj... ” jawab ku. lalu ku peluk dien sahabat lama ku itu.
”untung saja kamu masih disini, aku fikir kamu sudah pulang...” balas nya.
”loh iya dien, kok kamu tahu aku disini, kamu sengaja ya nyari aku?” tanya ku.
kulihat dien tersenyum dan berkata, ”iy, aku nyari kamu, habisnya kamu sudah gak pernah ngabarin aku lagi.. jadi aku putuskan mencari kamu, ternyata bukan hal yang sulit mencari seorang photografer cantik seperti kamu le, selamat ya le karena kamu sudah menjadi photografer hebat yang sesuai dengan apa yang kamu cita-cita kan..” ujarnya pada ku.
” kamu bisa aja dien..aku jadi ga enak nih sama kamu dien, aku bukan gak pernah ngubungin kamu, semenjak kamu pergi ke ausi aku jadi susah ngubungin kamu..maaf yah...” jelas ku.
”gak apa-apa le, aku hanya ingin minta bantuan kamu le, sebagai seorang sahabat dan sebagai seorang fotografer...”lalu ia tersenyum.
”wah ada apa ini...jangan-jangan kamu mau nikah yah?”ledek ku.
”iya...”dengan tersipu malu ia mengakui tebakan ku itu.
” congratulation dien, wah aku kebalap lagi nih sama sahabat-sahabat aku...tapi aku turut senang yah..” jawab ku.
”thanks.. nah itu dia le, aku mohon kamu mau yah bantu aku, tolong donk le buatkan aku foto pre wedding yang bagus...hehehehehe” pintanya pada ku.
”pastinya donk,apa sih yang enggak untuk sahabat aku ini..” jawab ku..
”tapi masuk dulu yuk... harap maklum yah, studio ku ini hanya studio kecil..” akhirnya kubuka kembali studioku itu dan aku persilahkan dien masuk kedalam studio ku ini dan kami berbincang melepas rindu.
Tak terasa jam ditangan ku telah menunjukan pukul 9, akhirnya setelah satu jam kami berbincang melepas rindu akhirnya dien pamit undur diri.
”lea... thanks banget yah kamu sudah mau nolongin aku, kamu beneran gak ingin pulang bareng aku? kebetulan tunangan aku mau jemput nih, biar sekalian aku tahu tempat tinggal kamu sekarang.” ujar nya.
”gak deh,,nanti aku ganggu, nanti saja kamu kenalin ke aku yah.. aku juga lupa ada foto yang harus aku cuci malam ini, jadi aku gak bisa pulang juga hari ini. salam aja untuk tunangan kamu dan mamah sama papah yah dien..”
”oh begitu, serius gak nih?gak apa-apa kamu sendirian le?“ tanya dien pada ku.
”iya gak apa-apa.. hati-hati yah dien..” jawab ku.
Wah gak disangka ternyata satu per satu sahabat ku sudah menuju kepelaminan kapan yah kira-kira aku dan zhi menyusul. Oh iya, masalah zhi, aku kan marah makannya aku gak mau dijemput, tapi kenapa dia beneran gak jemput, jika aku telfon gengsi deh aku, udah deh mendingan aku nyuci foto aja dan menginap disini malam ini.
Jam ditangan ku menunjukan pukul 7 pagi. Hari ini pasti sangat melelahkan, aku ada 2 kali pemotretan hari ini, semoga semua berjalan dengan lancar, tapi kenapa zhi belum menghubungi ku ya? baru saja aku bertanya dalam hati ku tiba-tiba HP ku bergetar.
”dret...dret...dret....” terdengar bunyi getaran di HP ku, kulihat dien menghubungi ku. ku fikir zhi yang mnghubungiku.
”hallo..” jawab ku.
“lea... kamu dimana? kamu ada waktu gak hari ini?” tanya dien kepada ku.
“aku di studio ku dien,waktu..? kenapa dien?”
“kebetulan..boleh aku minta tolong sama kamu, tolong temenin aku fitting baju pengantin bisa tidak le? sekalian untuk foto pre wedding nya, biar kamu yang nilai bagus atau tidaknya sekalian aku mau kenalin kamu sama tunangan aku? kamu bisa le?” tanya dien pada ku.
“hari ini aku....ehm...”belum sempat ku menjawab.
“kenapa le??kamu gak bisa yah? ayo dong le.. kamu kan sahabat aku..” dengan nada memelas dien membujukku.
“jam berapa dien? aku sebenarnya hari ini ada janji dien.. tapi untuk sahabatku yang satu ini, aku coba deh usahakan dien..” jawab ku.
“owh... baiknya kamu.. sekarang..bisa?”
“sekarang yah? ok, gak lama kan dien?” jelasku.
“gak kouq, Cuma fitting baju aja...aku janji deh sama kamu..” ujar dien mencoba meyakinkan.
“ok.. “ jawab ku.
“makasih ya sahabatku sayang...see you letter...” ujar dien dan lalu ia menutp telfonnya.
“hufh.. zhi kemana sih, gak ada maaf lagi deh untuk dia, tega banget sama aku,bukannya minta maaf, telfon aja enggak. ya sudah aku gak perlu ke kosannya nanti malam, biar saja aku pergi dengan dien.” dengan nada kesal aku bergumam dalam hati.
“dreet...dreet...dreet..” HP ku kembali bergetar, kali ini zhie yang menghubungi ku.
“akhirnya nelfon juga yah kamu..awas aja yah kamu..” ujarku dengan nada sedikit kesal.
“hallo..” aku menjawab.
”pagi mba, apa benar ini lea photo studio? apakah anda pemiliknya? selamat mba, anda mendapatkan hadiah makan malam bersama pasangan anda malam ini tepat jam 7 malam, nanti akan datang seseorang menjemput anda. demikian informasi dari saya, dimohon kesediannya untuk hadir. salam seseorang yang selalu mencintai anda.” lalu telpon itu pun terputus. aku terkejut mendengar perkataanya barusan, kulihat kembali HP ku ternyata benar no zhi yang baru saja menghubungiku.aku tak percaya dengan apa yang ia katakan barusan, ku coba memastikan lagi dan memang benar itu no zhi. tak lama berselang aku dikejutkan oleh sesuatu.
Ku dengar seseorang mengetuk pintu studio ku. “tok..tok..tok..” ku lihat seseorang berdiri didepan pintu
“permisi...” ku dengar suara seseorang yang masuk kedalam studio ku.
“ iy ada apa ya mas?” tanya ku pada lelaki yang membawa seikat bunga mawar berwarna ungu itu.
“mba lea?” dia bertanya apakah aku lea.
“iya, ada apa ya mas?” tanya ku kembali.
“saya pegawai ditoko bunga disebrang jalan ini mba, ada seseorang yang memesan bunga ini untuk mba, mohon diterima bunganya mba..” pria itu menyodorkan ku seikat bunga mawar berwarna ungu dengan senyum ia kembali memberikanku sebuah kartu ucapan yang juga berwarna ungu.
“mba, ini ada pesan dari mas yang memberi bunga ini, oh iya mba, sebenarnya gak pernah ada mba yang mesan mawar ungu di toko kami.. karena memang tidak ada, tapi khusus mba, kami punya.. “  lalu pria itu tersenyum dan pergi meninggalkan ku. ku lihat kearah luar tepat kearah toko bunga itu, benar saja ku lihat zhi berada disana dengan memegang sebuah pewarna semprot di tangan kanannya, ia pun melambaikan tangannya dan tersenyum kearah ku. ku buka kartu ungu yang ada ditangan ku tertuliskan sebuah kata disana.
”sorry..” sungguh terlalu ia, mengapa melakukan hal sebodoh itu, memang aku pernah berkata, jika aku marah kamu harus meminta maaf dan memberikan ku apa saja yang berwarna ungu maka aku akan memaafkanmu, tapi tidak seperti ini juga, bahkan ia pernah memberikan ku kelinci berwarna ungu saat ia lupa hari ulang tahun ku. dia memang aneh, tapi aku akui aku sangat mencintainya. kulihat ia berlari kearah ku, setibanya dihadapan ku kulihat ia mengulurkan tangannya yang berubah menjadi ungu karena kebodohannya mewarnai mawar itu, ditangannya kulihat sebuah coklat berwarna ungu berbentuk hati bertuliskan ” I LOVE YOU ”.
”bodoh.. kamu bodoh, apa sih yang kamu mau?” mendengar perkataanku yang mengatainya bodoh ia pun memelukku dan berbisik ditelingaku ”kamu..aku mau kamu maafin aku, karena aku butuh kamu, lea wo ai ni...” aku tak dapat berbuat apapun, memang ia selalu saja bisa membuatku melupakan semua salahnya, malah mungkin disini aku lah yang bodoh, bodoh karena cinta ku.
”kamu ini... iya sudah aku maafin, jangan diulangi lagi ya...” jawab ku.
”ok sayang... tapi ada syaratnya, nanti malam jam 9 aku jemput kamu yah... ada kejutan buat kamu..” ujar zhi kembali merayuku.
”jam 9? bukannya jam 7 kamu ngajak makan malam? jam 9?malam banget, gak ah, aku gak mau..” ujar ku.
” sweety... aku kan bukan mau ngajak kamu makan malam, aku bilang aku punya kejutan buat kamu.. jadi maaf yah kamu aja yang ke GR-an..” ledeknya pada ku.
”ih kamu tuh ya, benar-benar nyebelin banget sih.. tadi bilangnya ngajak makan malam..kalau gitu gak ah!aku gak mau...” jawabku tegas.
”oh jadi gitu,beneran gak mau? nanti nyesel loh..”ledek zhi kembali pada ku.
”ih... apaan sih..kamu mah ngeledekin aku terus..”
”apanya sayang yang ngeledek, aku bener kan nanti kamu nyesel lagi.. gak kan aku ulangi yah...” tegasnya membuat ku penasaran.
”ehm... gimana yah..aku udah ada janji sih..” aku balik meledek.
”janji?dengan siapa?aku baru sehari gak ketemu kamu, kamu udah macem-macem yah dibelakang aku?” zhi terlihat begitu cemburu.
”ih..apaan sih kamu zhi, aku ada janji sama client aku tahu... ya sudah, aku tunggu, tapi gak pakai telat lagi yah, apa lagi lupa..!!” jawabku dengan nada tegas.
”owh,aku pikir...”
”pikir apa?” jawab ku.
”gak.. ok deh sayang...aku jemput yah di rumah kamu nanti malam. kamu mau kemana sayang? aku antar yah” ujarnya pada ku.
”aku mau memberikan hasil foto ini ke four magazine.. dan mengantar teman untuk fitting baju..”
”teman?...”
”aku antar yah?”.
”gak usah..teman ku yang akan menjemput ku..mungkin ia sedang dalam perjalanan.” jawab ku.
”telphon aja, bilang jika kamu diantar aku..” bujuk zhi memaksa mengantar ku.
”ehm...”
”yah??mau yah???” ujar zhi.
”ok...ok... i’ll call her...” aku putuskan menghubungi dien. Namun tak ada jawaban, akhirnya aku putuskan memberinya message. ”dien, kita bertemu ditempat saja, kamu fitting di leu’ boutique  kan?nanti aku kenalin dengan pacar ku, sekalian kamu kenalin aku tunagan kamu..dia memaksa mengantar aku dien, maaf yah.”
”yuk.. aku sudah kirimkan message ke dia..” akhirnya kami bersiap menuju boutiqe.
”boutique apa sayang?” jawabnya.
”leu’ boutique..” ku lihat zhi terkejut dan sedikit terlihat gelisah, dan sesaat sebelum kami pergi zhi medapatkan sebuah panggilan dari HP nya. aku lihat ia keluar dari mobil dan berjalan menjauh dari mobil. dari dalam aku melihat zhi begitu marah dan ia menutup telphonya.
”kamu kenapa sayang?sepertinya kamu gak suka menerima telphon itu.” ujar ku
”gak..aku gak apa-apa..hanya telphon salah sambung..”ujar zhi.
”aku antar kamu tapi aku gak masuk yah? aku ada urusan sebentar.” ujar zhi.
aku terheran oleh sikapnya, padahal tadi ia sangat antusias mengantarku, cepat sekali moodnya berubah. Sepanjang perjalanan ku dengar HP zhi yang kembali berbunyi terus menerus. namun zhi tak sama sekali menghiraukan. ”yang, HP kamu bunyi.. kenapa gak diangkat?” ujar ku.
”gak.. gak penting..” ujarnya pada ku.
”ya tapi kan gak ada salahnya diangkat, mungkin aja penting.” ujar ku.
”aku bilang enggak ya enggak!!” zhi membentakku, jujur ini kali pertama ia berani membentakku.
aku terkejut sampai aku merasa begitu bingung dengan dia, kenapa? apa salah ku? aku akhirnya kembali terdiam dan mencoba untuk tak menghiraukannya.
”maaf beibs.. aku gak bermaksud ngebentak kamu..” zhi menghentikan mobilnya dan berbicara kepada ku. aku hanya terdiam dan tak sama sekali menoleh kearah nya.
”lea... kamu marah yah sama aku..?” ia kembali bertanya.
”udah deh aku udah terlambat, kamu mau antar aku apa enggak?” jawabku dengan nada sedikit kesal.
”kamu itu kenapa sih? aku bukan supir kamu, kenapa kamu bicara tapi gak mau ngeliat aku?! kalau kamu marah ya kamu bilang kenpa sih! gak usah seperti anak kecil!” ia kembali membentakku.
”ok! aku memang seperti anak kecil, tapi kenapa kamu mau pacaran sama anak kecil? buka pintu mobilnya, aku bisa pergi sendiri!” bentakku.
”kamu ngancem aku? ok!”
mendengarnya bicara seperti itu akupun memutuskan keluar dari dalam mobil, ku banting pintu mobil dan beranjak pergi meninggalkannya, ku dengar ia memanggilku dan berlari mengejarku.
” lea! stop! i say stop!” ia kembali membentakku.
aku tak menghiraukan, aku tak habis fikir, setelah membentak ia masih bisa menyuruhku berhenti. aku pun memberhentikan sebuah taxi dan segera mungkin masuk kedalam taxi itu sebelum ia mendekat.
“lea, buka pintunya..! aku minta maaf karena sudah kasar sama kamu lea…” zhi mencoba menghalangi.
“Leu’ boutique pak..jalan dong pak, udah pak cuekin saja, saya gak kenal dengan dia…” aku menyuruh supir taxi untuk segera berjalan.
Akhirnya aku meninggalkan zhi dengan kemarahannya, kejadian itu membuatku tak habis berfikir. “mba maaf HP nya berdering..” ujar supir taxi yang membuyarkan lamunan ku.
aku fikir zhi yang menghubungiku, ternyata dien. aku enggan menerima telpon dari dien, namun ia terus menghubungiku. lalu aku menerima sebuah pesan dari dien.
”lea, please angkat telpon ku, aku butuh kamu, aku butuh teman curhat lea..” aku terkejut membaca sms dari dien, dan ku coba menghubungi dien.
”halo..” ujarku.
”lea..hiks...hiks..hiks...” ku dengar suara dien menangis diujung sana.
”kamu kenapa dien...” aku bertanya.
”lea.. sakit..le...hatiku sakit..” jawab dien.
”kamu dimana? aku kesana yah?” jawabku.
”aku ..aku di europ cafe’ le...aku butuh kamu le..”
”ok kamu jangan kemana-mana, sekarang aku kesana, tunggu aku 1 jam lagi, aku pasti kesana.” jawabku.
akhirnya dien menutup telponnya. ”pak tolong antar saya ke cafe’ europ yah..” ujarku pada supir taxi itu.
setibanya aku disana, kulihat dien duduk dan terus menagis ditemani segelas minuman ditangannya.
”dien, kamu kenapa?kamu mabuk dien..” kutarik minuman yang ada di gengaman dien dan meminta bon kepada pelayan yang ada disana.
”mas, tolong bonnya..dan tolong bawakan segelas air hangat yah..” ujarku.
tak selang beberapa lama, pelayan itu pun datang memberikan bon dan segelas air hangat. setelah aku membayar, aku pun memanggil taxi dan membawa dien kembali ke apartementnya.
sepanjang perjalan, dien hanya menangis dan berkata seolah menyalahkan dirinya. ”kenapa dia jahat sama aku..apa salah ku..sakit le...sakit hati aku...” aku tahu ia sudah terlalu mabuk, dan aku sangat kecewa dengan dien, karena ini bukan dien yang aku kenal.
”kamu kenapa dien? siapa yang jahat?”ujar ku.
”kamu..apa salah aku le.. aku gak pernah jahat sama kamu..” aku terkejut mendengar ucapan dien.
”aku?aku kenapa dien?” ujarku. aku tak percaya dien begini karena aku, namun aku berfikir ia hanya mabuk dan tak sadar atas apa yang ia ucapkan, mungkin ia sedang ada masalah.
setibanya di appartement dien aku mencari kunci di tas dien.
”dien, kamu berdiri disini sebentar, sandarkan badan kamu didinding ini, aku buka dulu pintu apartement kamu..”ku sandarkan tubuh dien dan mencoba membuka pintu appartement dien.
setelah pintu terbuka, kunyalahkan semua lampu.
kupapah dien masuk kedalam kamarnya, alangkah terkejutnya aku dengan apa yang aku lihat. seolah tak percaya ku hampiri dan kulihat dengan seksama. ya aku melihat foto dien dengan seseorang yang tak asing lagi untukku. ku lihat foto dien dengan sosok orang yang aku sayang. zhi.. aku lihat zhi ada didalam foto itu. aku tak kuasa menahan air mata ku, aku tak berani menatap wajah dien yang terlihat begitu sedih dan kecewa.
aku tak percaya tapi aku memang orang yang membuat dien menjadi seperti ini. aku menyakiti hati dien, entah siapa yang menyakiti dan tersakiti, tapi satu hal yang aku tahu, aku dan dien sama-sama merasakan sakit yang luar biasa, disini, dihati kami. aku tak tahu siapa yang harus disalahkan, aku atau dien, atau bahkan zhi? aku tak dapat mengerti ini semua, aku pun pergi dari appartemenya dien, meninggalkan dien yang terluka sama seperti ku.
”tuut...tuut...tuut...” ku coba menghubungi zhi, paling tidak aku harus tahu yang sebenranya.
”halo..” terdengar suara zhi diujung sana.
”bisa kita bertemu?” ujarku dengan nada yang dingin.
”le, kamu masih marah sama aku? aku minta maaf sayang, aku beneran gak bermaksud membentak kamu..aku..” belum selesai ia menjelaskan aku pun berbicara.
”besok jam 8 malam, di cafe’ batavia...” aku pun menutup telfon ku.
tak berselang lama zhi kembali menghubungi ku, aku tak ingin menerima telfon darinya, hari ini aku hanya terdiam di dalam kamar, merenung dan menangis, seolah tak percaya apa yang terjadi antara aku,dien dan zhi.
3 tahun lalu aku mengenal zhi, saat pertama kali aku mengadakan pameran atas foto-foto ku, saat itu pertama kali aku melakukan pameran untuk karya ku. zhi hadir di sana, ia memberikan ku seikat bunga mawar dan memuji semua karyaku. dia memiliki hobi yang sama dengan ku di dalam dunia photografer, namun sayang, ia tak pernah bisa melakukan hobinya lagi semenjak ia menjalani perusahaan yang dibentuk oleh ayahnya. sejak saat itu kami berteman, semakin lama semakin dekat. aku sama sekali tak pernah menyangka dia adalah tunagan dien. dien adalah sahabatku, kami berteman sejak masih bersekolah di sekolah menengah pertama dulu. dien memutuskan melanjutkan kuliahnya ke negara kanghuru di australia sana. kami berpisah. semenjak kepergian dien ke sana aku akui bahwa sangat sulit untuk menghubungi dien. saat itu facebook dan twitter belum terlalu mendunia. kami hanya sesekali mengabari via email dan YM.
terakhir kabar yang aku berikan adalah kabar mengenai pameran pertama ku untuk karya-karyaku. aku tak berani meminta ia hadir, aku hanya ingin berbagi kebahagiaan bersamanya. apa mungkin zhi datang atas permintaan dien, dan kenapa zhi tak bilang bahwa ia adalah tunangan dien. seandainya seperti itu, akan lebih baik jika aku tahu semua dari awal, aku tidak akan menyakiti dien, namun bagaimana jika sebaliknya? bagaimana jika aku yang terlebih dahulu mengenal zhi dibandingkan dien?kenapa dien tega terhadapku? “ah.... aku pusing, siapa yang salah? dan kenapa cinta itu sangat menyakitkan? seandainya aku tahu akan sesakit ini, aku tidak akan memilih untuk mencintaimu zhi..” dalam hati ku bergumam menyesali cinta ku terhadap zhi yang telah membuat aku dan dien sakit karenanya.
saat ku terbangun, ku lihat 8 panggilan tak terjawab, 5 dari dien dan 3 dari zhi. aku tak tahu apa yang harus aku lakukan, tak berselang lama HP ku kembali berdering, tertuliskan nama dien disana.
“bagaimana ini?apa yang harus aku katakan?apakah aku harus pura-pura tak tahu?apakah aku harus menjauhi dien dan zhi? apa yang harus aku lakukan?” aku berucap bingung dantak tahu apa yang harus ku lakukan.
“ada sms..dari dien..” ku coba membuka pesan itu, alangkah terkejutnya aku, aku fikir dien akan marah besar terhadapku namun aku salah, isi dari pesan itu adalah, “ lea..maafkan aku ya le.. mungkin ini semua salah ku..” ujar dien. aku tak bisa hanya diam seperti ini. karena yang aku tahu gak akan mungkin ada suatu permasalahan jika tidak ada 2 pihak atau lebih yang terkait didalamnya.
ku coba membuang rasa takut dan bimbangku, ku coba balik menghubungi dien dan meminta ia untuk bertemu denganku.
“hallo..” dengan nada rapuh ku dengar suara dien diujung sana.
“hallo dien.. aku...aku gak tahu apa yang harus aku katakan sama kamu, aku gak tahu siapa yang salah dan gak tahu siapa yang harus disalahkan.. mungkin aku yang salah,mungkin kamu atau mungkin kita yang salah.. aku gak pernah merasakan seperti ini, aku gak biasa berfikir secara jernih, aku gak pernah merasa sesakit dan serapuh ini dien...” aku menangis dan tak dapat berucap apapun lagi. ku dengar suara isak tangis dien di ujung sana.
“lea.. maafkan aku...” ujar dien, seolah menyalahkan dirinya atas semua masalah ini.
“kita harus ketemu dien... aku gak mau ini terus berlanjut tanpa ada kejelasan, kamu sahabat aku dien, aku gak ingin kehilangan sosok sahabat seperti kamu..”ujar ku.
akhirnya kami putuskan untuk bertemu sore ini pukul 5 di cafe yang sama tempat aku meminta zhi untuk hadir, hanya saja waktu yang membedakan. aku sengaja melakukan itu, aku hanya ingin tahu keadaan yang sebenarnya.
jam ditangan ku menunjukan tepat pukul 5 sore, dan aku sudah berada tepat didepan cafe’ batavia dari luar ku lihat dien duduk di salah satu bangku di cafe itu, rasa berat kurasakan saat aku mencoba melangkahkan kaki ini. tapi aku tetap memaksakan untuk masuk walau kenyataannya aku tak sanggup bertemu dengan dien, entah kenapa namun perasaan ini bercampur aduk menjadi satu.
dari kejauhan dien melihatku, dan sepertinya ia pun merasakan hal yang sama. sepertinya baru kemarin kami saling melepas rindu dan kami saling berbagi cerita satu sama lain. aku tak tahu kenapa ini bisa terjadi, namun ku coba untuk tetap bersikap biasa padanya walau ku tahu itu takkan mudah.
“hi lea...” sapa dien dengan senyumnya walau senyuman itu tak bisa menutupi perasaan nya.
“hi..” aku pun menyapanya dengan senyuman yang sepertinya sama dengan dien.
“kamu sudah pesan dien?” tanyaku kepada dien.
“sudah, karena ini tempat biasa kita bertemu dulu jadi tanpa seizin mu aku sudah pesankan minuman yang biasa kau pesan le..” ujar dien.
aku hanya tertunduk dan menganggukan kepala ku memberi isyarat iya kepadanya.
“kamu marah ya le sama aku?” dien memulai pembicaraan.
aku kembali menundukkan wajah dan hanya menggelengkan kepala ku sebagai jawabannya.
“aku gak tahu le harus mulai dari mana, aku juga gak tahu le apa yang harus aku jelaskan, disini bukan hanya dirimu le yang merasa sakit, aku le..aku juga..” ujar dien dan kami kembali terdiam satu sama lain.
“maaf mba ini pesanannya..” ujar seorang pelayan cafe ini.
“thanks ya mba...” kami serentak menjawab, akhirnya dien kembali memulai pembicaraan.
“zhi... aku kenal zhi 4 tahun lalu, dia teman ku saat aku masih kuliah di indonesia, zhi juga salah seorang anak dari teman dekat papah ku le. aku sempat berkerja di perusahaan ayahnya zhi selama kurang lebih satu tahun, selama itu juga kedekatan ku dan zhie berlanjut tepat tiga tahun lalu aku dan zhi resmi menjalin hubungan. Ketika 6 bulan kami berpacaran aku mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan S2 ku di australia. akhirnya kami putuskan untuk bertunangan. 6 bulan dari keberangkatan ku, aku mendengar berita bahagia dari sahabatku sendiri yaitu kamu le.. kamu bilang kamu akan mengadakan pameran semua karya mu dan itu perdana untuk mu. aku sebagai sahabat turut bahagia mendengarnya, namun aku tak bisa hadir disana melihat senyuman sahbatku lea. aku putuskan meminta tolong kepada zhi tunangan ku saat itu untuk datang ke acara pameranmu karena memang kebetulan ia sangat menyukai duni photografer sama seperti mu le. Namun aku tak tahu jika akan seperti ini keadaannya.padahal seperti yang engkau tahu le 2 bulan lagi aku dan zhi akan melangsungkan pernikahan, namun semua jadi berantakan le, aku gak tahu apa yang harus aku lakukan, baju kami telah siap, undangan telah siap dan akan segera disebar, gedung dan semuanya telah kami pesan. Aku malu bercampur kecewa le.. aku sakit le...” dien menjelaskan hubungannya dengan zhi kepadaku. Dien menagis dan terlihat sangat kecewa.
aku tak dapat berkata apa-apa, akulah yang salah, aku yang menyebabkan permasalahan ini, jika saja aku tidak bertemu zhi dan kami tak saling menyukai mungkin aku tidak akan melihat tangis sahabatku, sahabat terdekatku.
“aku tahu ini semua kemarin le, saat aku tanpa sengaja melihat zhi datang ke studio mu pagi itu, kulihat ia memberikan seikat bunga dan memelukmu, saat aku menghubungi mu pagi itu, aku sudah berada dijalan menuju studiomu, aku fikir kau tidak disana, ternyata kau disana, itu sebabnya aku tetap pergi kestudiomu untuk bersama-sama menuju tempat ku memfitting baju. Tapi kamu tahu le apa yang aku lihat? kamu tahu le sakitnya aku melihat itu, kamu tahu le rasanya 2 orang yang kamu sayang bersama dan menyakitimu le.. sakit le..aku sempat menyalahkanmu le, namun aku tahu ini semua juga karena salahku, aku yang menyuruhnya datang waktu itu, aku yang membuat kalian bertemu, aku yang salah le.. aku coba hubungi zhi setelah kejadian itu, ya zhi mengangkat telfonku namun kami bertengkar hebat. zhi memutuskan aku le.. zhi membatalkan semua rencana pernikahan itu, zhi membuat aku merasa sangat rapuh. Ku coba menghubunginya lagi namun ia tak sama sekali mnghiraukan. Aku kecewa le.. kecewa dengan zhi, kecewa dengan sahabatku. Aku putuskan untuk minum dan menghubungimu le..” jelas dien kembali.
Aku tak tahu apa yang harus aku katakan, dan kami kembali terdiam disini. Ku lihat dien terus mengeluarkan air mata, aku tak sanggup terus melihatnya yang menangis tertunduk pilu. Lalu dien mengangkat kepalanya dan menghapus air mata diwajahnya dan seraya berkata,
“le, mungkin aku salah karena sempat marah dengan mu, aku hanya tak tahu apa yang harus aku lakukan.. aku sempat ingin mengakhiri hidup ku le.. aku gak sanggup le hidup begini.. namun jika aku memang harus mengalah dan pergi, aku akan pergi. Mungkin ini terakhir kali aku menemuimu le, aku gak kan pernah sanggup lagi le melihat kalian bersama didepan ku.” Tiba-tiba dien berdiri dan meninggalkanku disini.
“dien..” aku berdiri dan menarik tangan dien, dien berhenti dan membalik badannya kehadapanku, aku beranikan diri meatap wajah dien yang sangat sendu. ku dekati ia dan kupeluk erat dirinya.
“dien.. maaf..maafkan aku...aku udah jahat sama kamu, aku gak tahu dien jika semuanya seperti ini keadaannya..sumpah dien aku gak tahu...” Ujarku.
dien memelukku erat dan berkata “maafkan aku juga ya lea...”
akhirnya aku mulai berani mengungkapkan hubunganku dengan zhi, dien terlihat begitu kecewa aku bercerita semuanya mulai dari kami jadian hingga saat ini. Ternyata selama ini zhi menduakan ku dengan sahabatku sendiri, dan kini terungkap semua keganjalan yang aku dan dien rasakan atas hubungan kami dengan zhi. Kini dien tidak lagi menyalahkan ku begitu juga aku, karena cinta tak bisa disalahkan.
“le, aku ngerti sekarang, aku akan coba melupakan walau aku akui aku mencintai zhi dan aku akan coba menganggap bahwa aku tidak pernah mengenalnya, le aku lebih baik kehilangan zhi daripada aku harus kehilangan kamu le, sahabat ku..” ujar dien.
“aku juga dien, aku akan coba melupakan zhi...”
”lalu apa yang akan kita lakukan dengan zhi?” tanya dien kepada ku.
“hari ini kita selesaikan semua dien, aku meminta zhi untuk datang ke cafe’ ini tepat pukul 8. aku ingin kamu, aku dan zhi bicara satu sama lain. aku ingin mendengar zhi memberikan penjelasan  atas apa yang ia perbuat. Kita juga gak bisa sepenuhnya menyalahkan zhi, karena cinta tak bisa disalahkan.
akhirnya waktu menunjukan pukul 8 malam, aku dan dien terdiam menunggu kedatangan zhi, dan tak berselang lama zhi pun datang. Tterlihat jelas ia sangat terkejut melihat aku duduk bersama dien, ia melihat 2 orang yang dekat dengannya ada di 1 tempat yang bersamaan, mungkin ini seperti bom waktu yang membuat jantungnya terpompa sangat cepat dan dapat berhenti kapanpun bom itu meledak.
Ia berjalan melangkah perlahan, meskipun perlahan namun terlihat jelas ia sadar akan kesalahannya, ia berani menghampiri kami dan itu menunjukan rasa tanggung jawab yang besar dari dirinya, walaupun terlihat ragu namun aku dan dien tahu benar ia dalam posisi yang sangat membingungkan saat kami melihat langkah kaki yang berat itu.
“ duduklah zhi.. kita perlu bicara..” ujar ku. dien hanya terdiam seolah tak percaya, aku bahkan melihat dien seolah tak dapat menahan emosinya, lalu ke genggam erat tangan dien, memberikan isyarat jika kita bisa menyelesaikan ini secara baik-baik.
“ maaf… ini semua salah ku, aku khilaf..” ujar zhi.
”khilaf? mudah yah kamu bilang maaf dan menjadikan kekhilafan mu sebagai alasannya, kamu udah sukses zhi menyakiti perasaan aku dan lea..kamu tega yah menghancurkan persahabatan aku dan lea yang sudah terjalin lama.. kamu tahu aku hampir saja kehilangan sahabat terbaik aku karena cinta ku ke kamu zhi!!” bentak dien seraya menjatuhkan air mata di wajahnya. dien berdiri dan mengguyurkan segelas air putih kemuka zhi. aku terkejut dan dien pun beranjak pergi dari tempat kami duduk.
“dien… berhenti…kita bisa selesaikan secara baik-baik..” ujarku.
”gak le, dia gak pantas mendapatkan maaf dari kamu dan aku le..!”
”dien... tunggu dengarkan dulu penjelasanku...” ujar zhi, dan lalu kulihat zhi mengejar dien, sakit hati ini melihat zhi masih mengejar dien, mungkin zhi memang mencintai dien, aku hanya terdiam dan tak dapat bergerak namun aku meneteskan air mata diwajah ini tanpa aku sadari aku menangis.
Setelah kejadian malam itu, aku putuskan untuk pergi, aku putuskan untuk merapikan pakaian ku, aku butuh refreshing, mungkin dengan cara ini aku dapat mengikhlaskan cintaku pergi bersama sahabatku.
Aku akan mencoba membuka studio baru di Bali, aku berharap dapat melupakan masalah ini, besok aku akan berangkat ke Bali untuk melihat studio baru ku yang baru saja ku beli online pagi ini, bali kurasa tempat yang tepat unutk memulai kembali lembaran baru di hatiku, walau takkan mudah untuk membuka hati ini, namun aku akan tetap mencoba mencari keberuntunganku disana.
”mah, pah, aku sudah mendapatkan tempat yang bagus untuk menjalankan studio photo ku di Bali, dan sudah ku beli, tiket sudah ada ditanganku, besok pagi aku akan berangkat ke Bali, jika nanti papah dan mamah ingin berkunjung, ini lamat lengkapku di Bali.. Mah, pah I love you so much..” aku berpamitan dengan kedua orang tua ku dan memeluk erat tubuh mereka.
malam ini malam ke-2 setelah kejadian malam itu. Namun dien dan zhie tidak sama sekali memberikanku kabar, mungkin mereke sudah berbaikan dan mungkin mereka sedang sibuk mengurus pernikahan mereka yang sempat tertunda karena aku. Aku harus belajar ikhlas, maka dari itu aku putuskan untuk tidak memberitahu dien tentang kepindahanku ke Bali.
”lea, apa semua sudah siap? hayo cepat nanti kamu ketinggalan pesawat sayang..” ujar mamah kepada ku.
”iya mah, semua sudah siap.. mari kita berangkat..” ujarku.
Sepanjang perjalanan aku tak dapat berhenti memikirkan dien dan zhi, sakit rasanya namun mereka adalah orang-orang yang aku sayangi.
“mah, pah, sebentar lagi pesawat yang aku tumpangi akan lepas landas, jadi aku pamit ya pah, mah.. do’akan semua akan berjalan lancar, aku sayang kalian..” sekali lagi aku berpamitan dengan orang tua ku.
“hati-hati ya sayang, jika sudah samapai kabarin kami yah de..” ujar mamah dan papah ku.
”iya...” jawabku.
tak butuh waktu yang lama, aku pun tiba di Bali. ”hufh... wellcome to bali and goodbey Jakarta... wellcome to my new life and goodbey my past memmory...” aku menghibur diri dengan sedikit kata-kata pemacu semangat ku dalam menjalani hidup baru.
satu minggu sudah berlalu, aku mulai melupakan mereka, namun aku terkejut melihat 2 orang yang tak asing datang kestudio ku.
”dien, zhi? kalian...”
” kamu jahat lea, pergi gak kabarin aku dan zhi, kamu sudah melupakan kita yah?” ujar dien.
aku tak tahu harus senang atau sedih, disatu sisi aku senang melihat mereka bersama lagi, namun disisi lain hatiku tak dapat berbohong jika aku masih mencintai zhi.
”malam itu, aku minta maaf sudah meninggalkan kamu le, zhi cerita semua, aku sadar aku juga bersalah dalam hal ini.” ujar dien. saat aku kerumahmu, ibumu memberikan alamatmu disini maka kami kesini.
”sudahlah dien, yang berlalu biarlah berlalu, aku senang melihat kalian bersama.” ujarku.
”bersama? hahaha iya memang kami bersama, tapi kami bersama kesini hanya untuk menemuimu..” ujar dien. kulihat zhi hanya tersenyum.
”apa maksud kalian? kalian memang bersama kan? dan kesini ingin memberikan ku undangan pernikahan kalian kan?”
”menikah? kami?” ujar zhi.
“ tidak lea, kami sepakat untuk tidak menikah dan hanya menjadi sahabat.. Aku kesini hanya ingin meminta maaf kepadamu, aku tahu aku salah karena mencintai 2 wanita dalam hatiku. Aku salah karena ingin memiliki kalian berdua, tetapi itu semua karena aku benar-benar jatuh cinta dengan 2 wanita berbeda. Aku mencintaimu karena kau memiliki apa yang tidak dien miliki dan begitupun sebaliknya, aku tahu ini sakit untuk kalian, dan ini juga sakit untukku, karena kesalahan ku aku harus terima sakitnya kehilangan 2 wanita hebat yang aku cintai, kau dan dien. Walau begitu dien tetap mau memaafkanku, aku sudah menjelaskan kenapa aku menduakannya denganmu, dia akhirnya mengerti. Aku minta maaf atas segala kekhilafanku, atas rasa keserakahanku dan atas cinta yang aku berikan kepada kalian. Walau aku tahu kau tidak akan mungkin memaafkanku lea..” ujar zhi mencoba menjelaskan, aku melihat zhi tertunduk, dien pun menghampiriku dan memberikan isyarat untuk mencoba memaafkan zhi.
“zhi jauh sebelum kau meminta maaf, aku sudah memaafkanmu, aku bahkan mencoba mengikhlaskan kalian bersama, namun aku ternyata salah, kita masih bisa bersama, kau masih bisa memiliki aku dan dien, walau hanya sebagai sahabat. Cinta mu memang sakit kurasa, tapi terimakasih karena pernah mencintaiku.” ujarku akhirnya kami berpelukan bersama.
“oh iya zhi, I have one message for you, you must remember that and try to listen okey..” ujar ku.
“what?” zhi mulai curiga. aku dan dien saling bertatapan, aku tersenyum lalu mulai menyampaikan pesanku kepada zhi.
 “ZHI IF YOU LOVE SOMEONE JUST KEEP HER IN YOUR HEART, YOU JUST HAVE ONE HEART, SO DON’T EVER YOU TRY TO PUT ANOTHER LOVE IN YOUR HEART, BECAUSE ONE DAY YOU WILL BE KNOW LOVE IT’S HURT, AND ZHI IT’S LOVE BECAUSE LOVE IT’S HURT!!”
zhi hanya tersenyum dan menjawab “i’ll remember that.. karena cinta itu sakit jika kita tidak dapat mencintai orang yang kita cintai dengan benar..” ujar zhi.
“yea.. LOVE IT’S HURT.. tapi cinta itu indah jika kau tahu cara mencinta..” ujar kami bertiga

chat with me... d^0^b

Mengenai Saya

Foto saya
JAKARTA, JAKARTA SELATAN, Indonesia
aku adalah seseorang yang cinta sekali dengan menulis, walapun pemula menulis bagi ku adalah cara mengekspresikan diri ku kepda orang lain, karena dengan menulis banyak hal yang akan kita berikan kepada orang lain yang membacanya terutama tulisan yang dapat memberikan manfaat bagi semua pembacanya...