This is my love story..
Nama ku yuki… hari ini adalah tepat 3 tahun hubunganku dengan Alvin berjalan, ya Alvin adalah pacarku sejak 3 tahun lalu saat aku masih duduk di bangku smu. 3 tahun sudah hubunganku dengan nya berjalan, tapi tidak seperti pasangan lainnya, aku rasa hubunganku dengannya hanyalah sebuah status.“yuki…..”
Panggilan itu membuyarkan lamunan ku.
“ana?” ujar ku.
“yuki ngapain kamu berdiri disini sendirian..melamun lagi… kelas sudah mau dimulai tahu..kalau terlambat bisa-bisa gak dibolehin masuk sama dosen kita yang super duper galak itu..”
“eh???? Iya maaf na.. aku..” belum selesai aku menjelaskan ana pun sudah dapat menebaknya.
“Alvin yah?kamu kenapa sih masih mikirin Alvin terus..dia itu udah terlalu sering nyakitin kamu.. tiga tahun pacaran masih tetap cuek sama kamu..kamu bisa ya tahan sama hubungan seperti itu..udah lah yuki… putusin aja cowok seperti dia …” ujar ana yang selalu dapat menebak isi hatiku ini.
Aku hanya tertunduk tanpa mengucapkan sepatah katapun, dan ana menarik tanganku berlari menuju ruang kelas.
Ana adalah sahabat ku dari aku masih duduk dibangku sma dia tahu betul apa yang aku rasakan tentang hubunganku dengan Alvin. Aku dan Alvin mulai menjalin hubungan saat aku duduk dibangku kelas 2 smu. Memang awalnya aku yang menyatakan suka dengannya, aku tak menyangka dia pun menerima perasaanku. Sejak saat itu kami resmi berpacaran.
Alvin adalah sosok pria yang ramah, mudah bergaul namun sulit difahami. Tahun pertama hubungan kami aku sudah dapat merasakannya, bahwa hanya aku yang selalu aktif dalam hubungan ini, selalu aku yang memulai pembicaraan, selalu aku yang mengajak untuk meluangkan waktu bersama, selalu aku yang merasa tersakiti.
Ana benar, hubunganku dengan Alvin tidak lah seperti hubungan pasangan lain yang sedang menjalin sebuah hubungan. Alvin terlalu sibuk dengan urusannya, dia bahkan tidak pernah sedikitpun mencoba memahami aku. Entah apa yang membuatnya menerima ku sebagai pacarnya.
“ Alvin sudah menghubungi mu? Dia ingat hari ini 3 tahun kalian pacaran?” ana kembali membuyarkan lamunan ku.
“eh?? Ehm.. belum na.. “ aku kembali tertunduk.
“yuki… it has been 3 years you have relationship with him… dia selalu saja lupa.. aku Tanya sama kamu yah, dari awal pacaran sudah berapa kali dia ngajak kamu jalan?sudah berapa kali kamu dibawa kerumahnya? Sudah berapa kali dia bilang dia sayang sama kamu?” ujar ana meragukan perasaan Alvin kepada ku.
“Alvin… dia sempet ngajak aku jalan dan kerumah nya aku sudah 2 kali, namun ....untuk bilang sayang, he never say that..” kembali aku menunduk
“see.. lalu kemana dia ngajak kamu jalan?berdua?sudah berapa kali dia ngajak kamu jalan? kamu diajak kerumahnya apa itu atas permintaan Alvin?” ana kembali bertanya.
“ana… memangnya kenapa kalau dia gak perduli sama aku? Yang terpenting aku perduli sama dia..” aku berusaha membela Alvin di depan ana.
“yuki…. Jawab aku!” dengan nada sedikit membentak.
“ana..kita lagi ada kelas…” aku lalu hanya terdiam dan tak menjawab sedikitpun pertanyaan ana.
Ana menggelengkan kepalanya tanda ia sangat kecewa dengan sikap ku ini.
Tapi sekali lagi ana menyadarkan ku bahwa hanya aku yang perduli dengan hubungan ini. Saat itu, saat Alvin mengajakku jalan memang bukan hanya kami berdua saja, tapi dengan teman-teman Alvin yang lain nya. Saat itu kebetulan band yang Alvin naungi akan tampil disalah satu kampus di Jakarta. Ia bertanya apakah aku ingin datang dan melihatnya tampil? Dan aku mengiyakannya.
Jika seseorang dibawa kerumah oleh pacarnya, itu adalah hal yang paling mendebarkan namun itu lah hal yang selalu diingininya. Aku… pertama kali aku dibawa kerumah Alvin saat aku duduk di semester 2 lalu, itu sudah 2 tahun kami berpacaran. Alvin, sesungguhnya bukan Alvin yang mengajakku ke rumahnya, namun itu dea, adik Alvin yang saat itu berulangtahun ke 17. Aku kesana atas undangan dea, dan yang mengenalkan aku kepada ke dua orang tua lavin adalah dea adik perempuan nya. Ke dua kalinya saat Alvin sakit, aku datang menemaninya yang saat itu memang hanya berdua dengan adiknya, karena mamah dan papah Alvin sedang pergi keluar kota.
Aku tahu ini semua aneh, kenapa aku bisa bertahan dengan hubungan seperti ini, tapi satu hal yang aku tahu, Alvin masih pacarku hingga saat ini, walaupun seperti ini hubunganku dengannya.
Jam di tangan ku menunjukkan pukul 11 siang, Kelaspun berakhir, aku segera beranjak dari kursiku..
“yuki…” ana menarik tangan ku.
“maaf…” ku dengar kata maaf yang keluar dari mulut ana.
Aku menoleh dan hanya tersenyum.
“aku Cuma gak mau liat kamu seperti ini yuki… aku hanya mau kamu lebih terbuka melihat apa yang ada.. aku tahu dia cinta pertama kamu.. tapi ga seperti ini juga kan yuki? Kamu yang selalu tersakiti? Hubungan kamu memang sudah 3 tahun berlalu, tapi itu semua juga karna Alvin kuliah di tempat lain..”
“stop ana..!!” bentakku.
“memangnya kenapa jika dia kuliah di tempat lain?!” kembali aku membentak ana.
“yuki..wake up!! Selama lulus sekolah, seberapa sering dia menghubungi kamu?seberapa sering kalian ketemu?waktu kalian masih satu sekolah kalian bisa bertemu setiap hari..tapi sekrang??” Tanya ana kembali.
“ini bukan urusan loe na!” bentakku dan aku berjalan meniggalkan ana sendiri.
“loe digantungin yuki!!” aku berhenti disaat ku dengar ana mengatakan hal itu.
“aku gak perduli apapun yang orang lain fikirkan tentang aku dan Alvin.. aku gak perduli seberapa sering dia menghubungi aku, aku gak perduli sesering apa aku bertemu dengannya, yang aku tahu aku masih perduli dengan Alvin..” jawabku pelan seraya ku teteskan air mataku.
Ana menghampiriku dan memelukku menenangkan hati ku.
“maaf yuki..aku ga mau hanya kamu sepihak yang merasakan sakit hanya kamu sepihak yang masih perduli, aku sahabat kamu, aku Cuma mau kamu berhenti nyakitin hati kamu..”
“he is my first love, dan walaupun bukan dia pacar pertama ku tapi buat aku dia cinta pertama aku.. aku tahu dia cuek, aku tahu dia ga perduli sama hubungan aku dan dia.. tapi aku ga bisa untuk berhenti suka dan sayang sama dia..”
“yuki…”
Ku lihat wajah kecewa ana terpancar jelas saat ia mendengar penjelasan ku.
“sekarang kamu jujur kepada ku, kapan terakhir dia menghubungi mu?” Tanya ana kepada ku.
Aku terdiam dan mencoba mengingat.
“aku tahu dia sibuk ana… dia sibuk dengan kuliah dan band nya.. aku gak maksain dia harus hubungi aku duluan… aku setiap hari menghubungi nya.” Jelas ku.
“yuki…. Yang aku Tanya kapan terakhir dia hubungin kamu..bukan kamu hubungin dia…” ana kembali menegaskan.
“bulan lalu…” jawab ku.
“enough yuki… kita cari tahu perasaan Alvin ke kamu… hari ini kita kekampus Alvin..!” bentak ana.
“tapi an? Aku takut ganggu dia..”
“kamu selalu khawatir sama Alvin..tapi apa kamu ga curiga?mungkin aja dia selingkuh..” tegas ana.
“gak ana, aku tahu betul sifat Alvin..dia gak mungkin duain aku.. aku tahu walaupun dia cuek tapi dia selalu menghargai perasaan aku..” ujar ku membela diri.
“terserah kamu mau bilang apa, aku gak akan tinggal diem..aku mau kamu cari tahu yang sebenernya yuki..” ujar ana.
“okay.. kita ke kampus Alvin hari ini..” ujar ku kepada ana.
Jam ditanganku menunjukkan jam 1 siang, selesai sudah jadwal kuliah ku hari ini. Keputusan ana untuk mencari tahu tentang Alvin tak dapat ku ubah, hari ini aku dan ana akan ke kampus tempat Alvin berada dan mencari tahu tentang dirinya.
Sebelum kami kesana ku coba sekali lagi untuk mneghubungi Alvin.
“Alvin..kamu dimana? Sms aku gak pernah kamu bales?bbm aku kamu read tapi gak pernah kamu replay, telfon aku selalu gak kamu angkat.. kamu kenapa Alvin?jika aku ada salah kamu kita bisa bicarakan ini baik-baik..aku khawatir sama kamu… aku sayang sama kamu..”
Ku kirim kalimat itu melalui bbm.
Ku lihat dia membacanya namun tak ada jawaban apapun.
Ku coba melihat status di bb nya, masih seperti 1 bulan lalu “I’am still here”.
Aku masih disini, kenapa hanya itu yang aku tahu dari mu. Apa benar yang ana katakan, apa benar hubungan ini gantung? Apa benar ada orag lain lagi?
“hufht….” Ku hela nafasku.
“kenapa yuki?” ujar ana.
“ehm… ga kenapa-kenapa..”
“ hayoo kita ke kampus Alvin…” ujar ku.
Sepanjang perjalan aku menunggu.. berharap Alvin membalas nya, tapi aku rasa aku hanya berharap yang tidak mungkin terjadi.
“ana… apa harus kita kesana? Alvin mungkin sedang sibuk..ini kan baru 1 bulan dia ga ngabarin aku.. nanti juga jika dia sudah gak sibuk pasti dia ngabarin aku…”
“kamu takut yuki?”
“aku… aku hanya tidak yakin saja ana..”
“mau sampai kapan?” ujar ana
Aku pun terdiam..
“here we are..” ana memarkirkan mobil miliknya di kampus tempat Alvin berada.
“itu bukannya mobil Alvin? He is in here..” ana meyakinkan Alvin masih di kampusnya.
“coba kamu telfon dia yuki…” ana meminta ku menghubungi Alvin.
Ku coba menghubungi nya,
“tuut..tuut…tuut… the telephon your calling is switch off..”
“gimana?” ujar ana.
“terputus..” jawab ku.
“ya sudah kita masuk saja..kita cari dia..mungkin sedang ada di kantin..” ujar ana.
Aku hanya mengangguk mengiyakan.
Kami berjalan menuju kantin kampus, mata ku melihat sekeliling mencari dimana Alvin namun aku rasa dia tidak ada di sini.
“ana.. kenapa kita tidak tunggu di mobil saja?” ujar ku.
“aku beli jus dulu yah..haus… “ jawab ana.
Aku dan ana duduk di kantin sementara menunggu jus pesanan kami, tak lama pesanan kami pun datang.
“ini mba jus nya” salah seorang penjaga kantin memberikan jus pesanan kami.
“thanks..” ujar ana.
“maaaf eneng berdua teh bukan anak kampus sini yah? Baru liat atuh saya..” ujar penjaga kantin itu.
“iya… wah mba hafal apa dengan semua anak kampus sini?sampai-sampai tahu kami bukan anak kampus ini..” ujar ana.
“iyaa atuh neng..saya kan sudah 10 tahun disini..” jawabnya.
“wah..bearti mba kenal Alvin mba anak sastra jepang?” ujar ana bertanya tentang Alvin.
“wahh..kenal atuh neng yang orang na kasep kan?” ujar nya dengan logat sunda.
“kasep?apaan tuh mba gak ngerti..” ujar ana.
“ganteng ana…” jawab ku.
“owh… iya mba.. mungkin… hahahaha” ledek ana.
“ah si eneng bisa aja.. eneng berdua teh temennya Alvin?” ujarnya.
“saya iyaa, kalau yang disebelah saya ini mah lebih dari teman..” ujar ana.
“oh… mau ketemu yah neng? Sebentar lagi juga keluar..kan sedang ada persiapan untuk vestifal jepang dikampus ini…” ujarnya.
“owh… begitu ya mba? Makasih ya info nya..” ujar ana.
“sami-sami atuh neng… sok dinikmatin jus nya..” jawab penjaga kantin itu.
“see.. dia sibuk ana..” jawab ku.
Ana hanya melanjutkan meminum jusnya tanpa menghiraukan aku.
“kita pulang saja yah…” ujar ku.
“kamu ga mau ngeliat Alvin memang nya?” ujar ana.
“aku…aku ga mau ganggu dia..”
“terserahlah…” ujar ana.
Kami beranjak menuju parkiran, dalam perjalanan seseorang memanggil ku.
“yuki….” Suara itu aku kenal.
“Alvin…” jawab ku, aku menoleh kearah belakang tepat dimana suara itu berasal.
Benar itu Alvin, dia bersama teman-teman nya, dia pun menghampiri aku dan ana. Dia menatapku dan berkata..
“yuki..are you looking for me?” ujarnya apaakah aku mencarinya sehingga datang kesini.
“ya iya lah.. loe kemana aja ga ngabarin yuki..lupa kali yah punya pacar…” dengan nada kesal ana menjawab.
Alvin hanya melihat ana dan tak berkomentar sedikitpun, lalu ia menarik tanganku.
“let’s go home..i’ll take you home..” ujar Alvin.
“eh…main bawa-bawa aja.. dia dateng sama gue..ya gue juga lah yang anter dia pulang… loe gak perlu anterin dia pulang..” ujar ana.
“gue ga tau apa masalah loe sama gue, yang jelas yuki is my girlfriend.. jadi dia pulang sama gue..” ujar Alvin.
Baru kali ini aku lihat Alvin seperti ini.
“ana.. maaf aku gak bareng kamu ya..aku.. aku pulang dengan Alvin..” ujar ku.
Ana hanya tersenyum dan mengangguk.
“eh loe..awas loe kalau sampe temen gue kenapa-kenapa..” ana mengancam Alvin.
Alvin hanya melambaikan tangannya sambil menarikku masuk kedalam mobilnya.
Selama perjalanan mataku tak henti melihat dirinya, kami hanya terdiam dan tak berkata apapun samapai akhirnya aku memulai pembicaraan.
“kamu sedang mempersiapkan vestival jepang yah? Pasti seru..” ujar ku mencairkan suasana.
Dia hanya mengangguk dan kembali tak berucap sepatah katapun, akupun terdiam melihatnya seperti itu. Akhirnya kami pun tiba di rumah ku, Dia menepikan mobilnya dan lalu kami pun berhenti, Alvin menatapku dan dia pun berucap..
“maaf.. “ ujarnya.
“eh?? Maaf?kenapa kamu minta maaf?” ujar ku.
“maaf..maaf untuk semuanya.. aku butuh waktu sendiri saat ini..” ujar nya.
“sendiri? Maksud kamu?”
“please give me space to breathe..”
beri aku ruang untuk bernafas..? apa maksud nya? Ujarku dalam hati..
“maksud kamu kita putus alvin?”
“aku hanya butuh waktu yuki..” ujarnya.
Aku tertunduk dan tanpa sadar aku teteskan airmata ku ini..
“yuki… “ melihat ku menangis, ia mengusap air mata ku.
Ku coba tersenyum dan berkata,
“dari awal, aku tahu kamu emang gak pernah ada rasa sama aku, aku tahu kamu gak pernah perduli sama aku, aku tahu kamu hanya kasian kan sama aku..?” dengan suara berat ku ungkapkan isi hati ku.
“yuki.. aku Cuma butuh waktu.. butuh waktu untuk nerima kamu, aku coba untuk care sama kamu, aku coba untuk sayang sama kamu, tapi semua terasa berat..” ujar nya yang semakin membuat ku sakit.
“3 tahun alvin.. kita sudah 3 tahun pacaran.. bagi aku itu lebih dari cukup untuk coba nerima aku.. aku ga ngerti apa yang ngebuat kamu tetap milih aku jadi pacar kamu sedangkan disisi lain hati kamu bukan untuk aku.. aku berharap kamu bisa melihat isi hati aku.. tapi sepertinya kamu masih ga bisa melihat itu.. aku kecewa alvin..” ujar ku.
“yuki..maaf…” ujarnya.
Aku tegakkan kepalaku dan tersenyum menatapnya..
“alvin..thanks for everything.. hari ini aku akui aku lelah..aku lelah dengan hubungan ini.. aku… mulai hari ini aku akan mencoba melepaskan kau dari tangan ku… “
Ku buka pintu mobil dan dengan langkah berat ku tinggalkan dia..
“yuki..” ku lihat ia mengejarku dan alvin menarik tangan ku untuk menghentikan langkahku.
“yuki.. aku hanya butuh waktu.. we don’t need to break up..” ujarnya menjelaskan kita tidak perlu putus.
“cukup alvin..aku ga mau kamu maksain diri kamu terus.. jika harus putus pun aku terima.. bahkan jika kamu mendapatkan yang lebih baik dari aku..”ujar ku.
“yuki… aku bersumpah ini bukan karena ada orang lain yang aku sukai..tapi ini semua benar sulit untuk ku fahami..” ujar nya.
“sampai detik terakhir aku jadi pacar kamu, aku percaya sama kamu.. tapi, jika pun saat ini ada yang terbaik buat kamu.. aku mau kamu jangan perlakukan dia seperti aku.. siapapun dia, cobalah untuk selalu mendengar dan melihat hatinya.. love will be find the way..”
“beri aku waktu yuki..waktu untuk menerima dirimu di hati ku, beri aku waktu untuk menerima dirimu seutuhnya.. aku tahu kamu tulus sayang sama aku, tulus perduli sama aku, itulah sebabnya aku memilih mu.. aku pernah merasakan sakitnya di khianati..sakit nya mencintai..beri aku waktu untuk menerima semua itu.. “
“aku selalu berusaha membuat kamu menerima aku, tapi bagaimana bisa jika kamu masih bersikap acuh pada ku? Kamu bahkan enggan untuk care sama aku, sediki saja atau bahkan sekali saja kamu tunjukkan kamu perduli.. maka aku akan tetap seperti yang kamu mau..”
Ku lihat alvin hanya tertunduk dan perlahan melepaskan tangannya dari ku,
“alvin.. aku sayang sama kamu..” ku peluk dia dan ku bisikkan kepadanya.
“biar waktu yang menjawab..aku akan tetap sayang sama kamu, sampai aku benar-benar merasa cukup dengan semuanya, dan jika saat itu tiba aku akan berucap “aku ikhlas...sungguh ikhlas..ikhlas berhenti untuk menyukai mu..” aku harap kamu bisa melihat hati ku..”
Ku lepaskan pelukan ku, ku lihat tatapan nya yang begitu tulus dan ia pun tersenyum dan berkata,
“ thanks for always stay beside me.. and thanks for give me the time to this relationship..” Terima kasih untuk selalu ada di sisi ku .. dan terima kasih untuk memberi ku waktu atas hubungan ini .. ujarnya.
Hari ini aku tahu apa yang selama ini alvin rasakan, selama ini dia hanya butuh waktu untuk menerima ku. Dulu ia memang pernah memiliki pengalaman buruk saat berpacaran, pernah disakiti orang yang kita sayang terkadang membuat kita jera untuk mencintai. Aku yakin suatu saat nanti dia akan sadar dan melihat hati ku, aku harap tidak terlambat untuknya menyadari itu semua.
Seminggu berlalu dari kejadian hari itu, alvin mulai menunjukkan bahwa ia benar-benar ingin berubah, ia mulai sering menghubungi ku, walau terkadang hanya sekedar menyapa. Aku merasa bahwa semua ini semakin memburuk, bukannya semakin membaik aku bahkan merasakan sesuatu yang dipaksakan dalam hubunganku dan alvin.
Alvin memang memulainya dari komunikasi kami, namun aku tak melihat hatinya, semua terasa begitu mengganjal di hati ku. Hari sabtu minggu depan akan ada vestifal jepang di kampus alvin, ia meminta ku untuk hadir dan melihatnya tampil di acara kampus nya. Sabtu minggu ini aku ingin mengajaknya pergi, hanya berdua, aku ingin memastikan perasaan ku terutama perasaan kami.
Ku putuskan menghubungi nya’
“tutt..tuut...tuut...hallo..iya yuki..” ku dengar suara alvin di ujung sana....
“iya... kamu lagi apa?” tanya ku.
“aku lagi dekorasi panggung..kenapa?” ujarnya.
“bisa nanti sore kita ketemu?” ujar ku.
“hallo?? Aku ga denger apa yang kamu katakan..sebentar aku ketempat yang lebih tenang dulu..” ujarnya yang memang saat itu sangat berisik sekali ku dengar disana.
“haloo? Maaf aku ga denger yang kamu katakan tadi.. kenapa yuki?” ujar nya.
“hari ini kamu ada waktu?nanti sore bisa kita ketemu?” ujar ku.
“nanti sore atau siang ini saja jam makan siang,kita makan siang bersama saja? aku bisa nemuin kamu sebentar, karena sepertinya aku akan sampai malam berada disini..” ujar nya.
“hem.. iya..” jawab ku.
“okey.. aku jemput dimana? Ujar nya..”
“kita gak usah kemana-mana jika kamu sibuk disana, aku saja yang kesana..” ujar ku.
“baik jika itu yang kamu mau..” ujar nya.
“see you.. love you..” ujar ku.
“iyaa.. see you..” ia pun menutup telfon ku tanpa berucap love you too...
Aku tersenyum sendiri mengingat dia masih belum bisa mengatakan itu, senyuman kecewa yang ku keluarkan terbaca jelas oleh ana.
“ kamu kenapa?ada masalah lagi dengan alvin? “ ujar ana yang saat itu ada disebelah ku.
“ah..enggak.. aku hanya sedikit merasa bodoh..” ujar ku dengan ana.
Saat ini alvin sedang mencoba menerima hati ku, mencoba melihat, membaca dan mendengar isi hati ku, namun aku merasa lelah menunjukkan hati ku kepadanya, apakah ini yang dinamakan jenuh? Aku rasa aku berbohong dengan alvin, aku merasa aku benar-benar lelah dengan ini semua, aku berharap hari sabtu ini akan meyakinkan ku tentang isi hatiku untuknya masihkah aku melihat dirinya, masihkah hati ini hanya tertuju untuknya, dan masihkah aku mnyukainya.
“ana.. hari ini kamu makan siang sendiri ya? Aku mau makan siang dengan alvin.. ^_^ “ ujar ku dengan senyum.
“hemm... tau deh yang lagi kasmaran...” ujar ana meledekku.
Aku hanya membalsanya dengan senyum, apakah kata kasmaran tepat menggambarkan isi hati ini? Kembali ragu itu hadir ditengah-tengah perasaan ku saat ini. Ana tidak tahu apa yang aku rasakan saat ini, yang ia tahu hubungan ku mulai berkembang dengan alvin, aku memang tak ingin ia tahu. Biarlah waktu yang menjawab semua.
Jam ditangan ku menunjukkan pukul 1 siang, akupun sudah berada dikampus alvin, aku menunggunya di kantin kampus ditemani segelas jus strawberry di meja ku.
“yuki... maf membuat mu lama menunggu..” ku lihat ia menghampiriku dengan senyum yang sudah lama tak ku lihat terpancar begitu tulus.
“tidak.. aku baru saja tiba dan memesan jus strawberry ini... ^_^”
“teteh..tolong jus mangga nya ya teh..” ujar alvin.
“eh..maaf aku lupa kamu suka juss mangga, aku belum pesankan..” ujar ku.
“it’s okay.. kamu juga baru ini lupa..biasanya kamu juga mesenin buat aku.. it’s okay yuki.. ^_^” ujar alvin
Aku memang selalu ingat apa yang ia sukai baik minuman, makanan atau apapun itu, tapi kenapa sekarang aku bisa melupakannya.
“kamu mau makan apa?” ujar alvin.
“iya? Hem.. yang enak apa disini?” ujar ku.
“aku sih suka makan soto pakde yang di ujung sana.. soto ayam nya enak kok gurih.. “ ujar alvin.
“aku mau..sama yah seperti kamu...” ujarku.
“gak pakai daun bawang seledri kan?” ujar alvin.
“eh..? kamu tahu aku gak suka itu?” ujar ku.
Dia hanya tersenyum..
“okay aku pesenin dulu yah..” ujar alvin.
Alvin menunjukkan ia mulai memperhatikan ku, tapi mengapa hati ini berat untuk menerima itu semua, padahal aku sangat mengharapkannya.
“neng maaf..ini juss mangga pesanan alvin tadi..” ujar mba penjaga kantin yang waku itu.
“iyaa mba makasih... ” ujar ku.
“saya teh baru liat alvin makan sama perembpuan berdua.. biasanya hanya sama teman-temannya.. wah banyak yang patah hati nih neng liat kalian.. banyak atuh yang suka sama alvin..” ujarnya.
“oh ya??hem.. saya berarti beruntung sekali ya mba.. ^_^” ujarku.
“iyah.. ^_^ hehehe.. ya sudah neng selamat menikmati yaa.. ” ujar mba kantin itu.
“hey... ini soto kamu.. “ ujar alvin mengagetkan ku.
“thanks.. oh iya.. kata mba yang disana, yang jual juss kamu banyak yang suka yah disini??” aku meledeknya.
“hem..kenapa memang nya? Kamu marah?” ujarnya.
“yah, aku ga enak aja sama mereka.. nanti mereka patah hati.. J” ujarku
“yang aku tahu, saat ini aku terlalu sibuk memahami satu hati.. memahami seorang wanita yang kini duduk dihadapan ku..” ujar lavin membuat muka ku memerah dan tertunduk.
“sudah..hayoo dimakan nanti dingin sotonya..” ujar alvin mengalihkan suasana saat ini.
Hampir 1 jam kami bersama, aku masih belum bisa mengutarakan maksud ku menemuinya.
“kamu bilang kamu mau ketemu aku? Hanya mau ketemu saja dan makan siang bareng kah?” ujarnya.
“iya??hem..sebenar nya aku mau..” belum sempat ku utarakan niat ku mengajaknya pergi ia malah mengajakku.
“hari sabtu jam 7 malam aku jemput kamu ya..kita jalan..” ujarnya,
“eh??sabtu??jam 7? Kemana?” ujarku kaget.
“mamah ku ulangtahun, dia mau ngadain dinner dirumah, kamu maukan datang?setelah itu kita jalan bersama, aku mau ajak kamu kesuatu tempat..” ujarnya.
Aku hanya dapat tersenyum dan menganggukkan kepala ku.
Semua berjalan seperti yang kuinginkan, pertama kalinya alvin mengajakku datang kerumahnya dengan mulutnya sendiri dan pertama kalinya ia menunjukkan isi hatinya kepadaku saat ia bilang hanya aku yang saat ini coba ia fahami. Entah karena terkejut atau karena hal lain membuatku merasa ada yang mengganjal di hati ku.
“are you okay?” ujarnya yang ternyata masih memperhatikan ku.
Aku kembali tersenyum dan mengangguk.
“aku antar kamu pulang yah?” ujarnya,
“ga usah..aku bawa mobil sendiri, aku bisa pulang sendiri, kamu kan sibuk.. it’s okay aku bisa sendiri..” ujarku.
Ku lihat ia tersenyum.. “baik aku antar sampai parkiran saja boleh?” ujarnya.
“iya..” akhirnya ia mengantarku sampai parkiran.
“yuki..” ia menarik tanganku dan mengecup keningku.
Ini pertama kalinya ia melakukan itu. Aku sungguh terkejut dan tak dapat berkata sepatah katapun.
“hati-hati yah..telfon aku jika sudah sampai.. J” ia membukakan pintu mobil ku, aku sungguh terkejut dengan alvin yang sekarang aku kenal, aku baru pertama melihat ia seperti ini, perhatian itu dan kecupan itu semua membuatku merasa sangat nyaman.
Sepanjang perjalanan aku tak dapat melupakan apa yang ia lakukan dengan ku, aku merasa sangat nyaman, jantung ku berdegup sangat cepat bahkan aku masih dapat merasakannya sekarang.
Setibanya dirumah aku pun menghubunginnya kembali.
“tuut..tuut..tuut...” namun tak ada jawaban, ku coba mengirimnya sebuah pesan melalui bbm ku.
“alvin..aku sudah sampai..kamu jangan terlalu cape yah?jangan pulang terlalu larut.. tetap jaga kesehatan yah..”
Tak lama berselang ia pun membalasnya..
“okay sweety.. b^_^d”
Pesan itu seperti bukan ia yang membuatnya, karena ia tidak pernah memanggilku dengan sebutan itu.
“alvin...ini kamu yang bbm aku?” dengan polosnya ku bertanya.
“^_^ iya.. kenapa?”
“ah..tidak... okay.. janganlupa kata-kata ku ya.. J “
“ b^_^d 愛してる”
“ehm... kamu nulis apa alvin?” ujar ku.
“itu bahasa jepang..jika kamu ingin tahu artinya kamu cari tahu sendiri yah.. ;) “ ujarnya.
Hemm apa yah itu artinya, ku buka google translete dan ku coba mengartikan. Alangkah terkejutnya aku, ini pertamakalinya ia berkata “aku cinta kamu..” walau diungkapkan dalam bahasa jepang.
Semua hal yang terjadi hari ini membuatku semakin yakin ia benar-benar ingin berubah, ingin memahami hati ku, namun aku masih dengan perasaan yang tak menentu ini, aku senang melihatnya berubah, bahkan ia membuat jantungku berdegup kencang tapi... apa kah aku masih dengan perasaanku kepadanya? Apakah ia tulus membalas ku? Itu yang selalu ada di hati ku.
Akhirnya hari sabtu pun tiba, sebuah kado sudah kusiapkan untuk mamah nya alvin aku pun sudah siap untuk menunggu alvin menjemputku, jam ditanganku menunjukkan pukul 7 tepat. Tak lama berselang ku dengar seseorang menekan bell rumah ku.
“pasti itu alvin..pah..mah..aku berangkat yah..” aku pun berpamitan dengan mamah dan papah.
Kubuka pintu rumahku, ku lihat sosok pria dengan kemeja fanel berwarna biru berdiri didepan pintu rumahku membawa seikat bunga mawar ditangnya.
“alvin... J” ia pun tersenyum melihatku.
“ini..”ia memberikan bunga itu untukku.
“thanks..” ku cium harumnya bunga mawar merah ini.
“om..tante..” alvin menyapa kedua orang tua ku.
“iya nak alvin.. titip yuki ya nak..” ujar mamah ku.
Alvin tersenyum dan mengangguk, aku sudah banyak merasa terkejut oleh perubahan sikap alvin kepada ku. Ku lihat ia mengulurkan tangannya dan mengajakku pergi.
“yuk... J”
“mah,pah aku pergi dulu ya..” ujarku.
“permisi om,tante..” ia pun berpamitan.
“kamu kenapa ngeliatin aku terus? Bisa grogi nanti aku..” ujar alvin yang sadar aku terus memperhatikannya sepanjang perjalan.
“ihhh kamu... siapa yang merhatiin kamu..” ledekku.
“kamu cantik malam ini..” ujarnya membuat muka ku memerah.
“thanks.. J” jawab ku.
Kami kembali terdiam, suasana begitu kaku kurasakan. Ku lihat bunga yang ia berikan, begitu indah.
“you like it?” ujarnya.
“eh? Ah iya,, i like it..thanks..”
“ana memberitahu ku, kau menyukai bunga mawar merah.. so i give it to you.. ^_^” ujar alvin, aku tak percaya ia lakukan itu semua.
“aku banyak bertanya tentang kamu kepada ana, dia banyak membantu.. aku sadar aku salah, 3 tahun kita pacaran aku tidak pernah sedikitpun tahu tentang mu, aku..aku ingin thu banyak tentang mu..” ujarnya polos.
“ana? Kamu lakukan itu semua?”
“iya.. aku berharap aku bisa memahami hati mu yuki..” jelas nya.
“thanks alvin.. J”
Akhirnya kami tiba di rumah alvin, acara berjalan sesuai rencana, jam pun menunjukkan pukul 10 malam, alvin mengajakku ke suatu tempat, akhirnya kami berpamitan untuk pergi.
“kita mau kemana? “Ujarku..
“aku mau ngajak kamu ketempat yang paling aku sukai..”
Ia mengajakku ke sebuah danau yang terletak tak jauh dari tempat tinggalnya.
“kamu sering kesini?” ujarku.
“indahkan? Tempat ini indah apalagi malam hari..lampu-lampu kecil dipinggiran danau terlihat cantik berpantulan dengan air di danau.” Jelasnya.
“thanks kamu udah bawa aku kesini.. “
“yuki... “
“iya?”
“apakah semua yang aku lakukan kepadamu sesuai dengan apa yang kamu harapkan?” ujar alvin.
Aku melihat dirinya yang hanya tertunduk disampingku.
“aku senang dengan itu semua, terimakasih buat semua yang sudah kamu lakukan untukku.. tapi alvin.. aku hanya ingin kamu jadi dirikamu sendiri. Aku ga mau kamu merasa terpaksa melakukan itu semua..” ku lihat ia menatapku, kubalas ia dengan senyuman.
“kamu pernah dengar lagunya peterpan yang dinyanyikan momo geisha? Itu lagu favorit aku, lagu itu mengingatkan aku tentang kamu.. cobalah mengerti.. jika aku dengar lagu itu aku selalu memikirkan kamu.. lagu itu berisikan tentang perasaan ku..” aku kembali tersenyum.
“jika memang berat untuk mu menjalani ini, hentikanlah... berhentilah..aku aku tidak ingin memaksa yang tak bisa kamu berikan untukku, kamu hanya perlu menerima, dan tak harus memahami dan tak harus berfikir... hanya mencoba mengerti isi hati ku.. namun jika itupun sulit untuk mu, biarkan semua berakhir... dan aku akan tetap dengan perasaan ini sampai nanti aku sanggup mengatakannya... jadi biarkan rasa ini berjalan, biar waktu yang memisahkan..”
“yuki... aku.. aku masih belum memahami hati ini, aku... maafkan aku..”
“alvin..jika nanti aku mengatakan apa yang pernah kubisikkan kepada mu saat kamu butuh waktu sendiri kemarin, aku mau kamu membalasku dengan senyuman, jangan pernah menyesal, karena jika saat itu tiba aku tidak akan pernah kembali seperti ini, kembali dengan semua perasaan ini untukmu.. “
“yuki.. maafkan aku..’’
“hey..it’s okey i’ll be fine... hem..jadi malam ini adalah malam pertama sekaligus malam terakhir kamu jadi pacar aku yang romantis.. jadi aku ga mau kamu rusak malam ini...” ujarku dengan nada sedikit meledek.
“yuki..”
“apa permintaan ku masih terlalu berat buat mu alvin?menjadi pacar ku yang romantis hanya malam ini saja?” ku tundukkan kepala ku dan ku teteskan airmata ini.
Ia menghampiri dan memelukku, ku dengar ia berbisik,
“terimakasih karrena telah mencintaiku dengan tulus, dan maafkan aku yang tak bisa melihat hatimu..”
Aku tahu cepat atau lambat hal ini akan terjadi, aku tahu perasaan yang mengganjal ini pasti sangat menyakitkan, benar apa yang aku khawatirkan, alvin hanya berusaha menghibur aku dan berusaha memahami walau hatinya bukan untukku.
“terimakasih alvin...”
Hari ini aku sudah bukan pacar alvin lagi, dia masih sering menghubungi ku hanya sekedar tahu kabar ku, aku tahu dia merasa bersalah mempermainkan hati ku, tapi aku bersyukur mengenalnya, karena aku punya cerita cintaku dengannya.
Ana.. dia akhirya tahu semua, dia tidak bisa menyalahkan alvin terus, karena dia tahu cinta itu tak harus memiliki, ana sahabat terbaikku dia akan selalu ada dan mendukung ku.
Kini aku hanya tinggal membersihkan sisa-sisa perasaan ku untuk alvin, 3 tahun bukanlah waktu yang singkat, aku hanya berharap kelak ia benar-benar bertemu seseorang yang bisa menghapuskan luka hatinya dan menempati ruang kosong di hati nya.
Sabtu ini alvin mengundangku hadir ke festival jepang di kampusnya, aku tak tahu apakah aku kuat menemuinya, tapi aku yakin ana sahabatku akan selalu ada menemani ku.
“ana... apakah kamu mau menemaniku sabtu besok?” ujarku.
“kamu yakin yuki mau kesana?” ujar ana.
“iyaa.. walau bagaimana pun dia kan teman kita juga... ^_^”
Aku mulai mengabaikan pesan dan setiap hal yang berkaitan dengan alvin..tujuanku bukan untuk memutus tali silahturahmi, tapi untuk membantuku melupakannya. Aku rasa ia menyadari hal itu, pernah ku terima satu pesan darinya yang mengatakan..
“ yuki, aku tak menyalahkanmu jika kau menghindariku atau bahkan kau membenciku, aku hanya ingin tahu bagaimana keadaan mu, aku minta maaf yuki...”
Aku tak membalas pesan itu, tapi menurut ku, tanpa sadar alvin mulai memperdulikanku dan bahkan merasa kehilangan, aku pernah berkata bahwa aku tidak akan kembali keasaat dimana aku benar-benar masih menyayangi dan perduli dengannya, karena aku lelah dan sudah berhenti berharap.
Tak terasa hari semakin berlalu, hari ini adalah hari sabtu, dan aku bersiap menuju festival jepang yang diadakan oleh kampus alvin. Ana sedang dalam perjalanan menjemputku, ku siapkan diriku untuk bertemu dengan alvin disana.
Jam ditanganku menunjukkan pukul 1 siang, tak lama berselang ana pun tiba.
“kamu beneran mau datang yuki?” ujar ana.
“iya... it’s okay ana..” ujar ku.
Setibanya kami disana suasana ramai menyelimuti, ku lihat sekeliling berdiri stand-stand yang menunjukkan budaya jepang. Aku tahu pasti alvin berada di salah satu stand yang berdiri disini. Namun aku tak berharap banyak bisa bertemu dirinya.
Band alvin akan tampil disini, ia bilang ia akan tampil sore ini, aku hadir untuk menepati janjiku melihatnya tampil, namun jika aku bertemu dengannya hari ini.
“ana..mari kita melihat-lihat..” ujar ku.
“yuki... itu bukannya alvin?dia jadi cosplayer? Ia jadi siapa?di anime apa?” ana terkejut melihat alvin mengenakan seragam smu bagaikan peran dalam sebuah anime.
“owh,,itu, itu anime jepang judulnya vampire knight...aku suka film itu...” ujar ku.
“cocok dengannya, terlihat lebih cool dan ganteng.. ” baru ini ku lihat ana memuji alvin.
“alvin...” ana melambaikan tangan nya menunjukkan kami disini.
Kulihat alvin merespon dan menghampiri kami.
“kalian hadir?” ujarnya
“iya...” jawab kami.
“apakabar yuki?”
“baik...” ku balas dengan senyum.
“kapan band loe tampil?” tanya ana.
“ehm... orang yang aku tunggu sudah datang, sebentar lagi juga akan tampil...”
“loe jadi cosplayer anime vampire knight?” ujar ana.
“yuaps... gue inget anime ini kesukaan seseorang...” jawab alvin dengan mata tertuju kepada ku.
“yuki.. beli jus dulu yah..” ujar ana meninggalkan aku dan alvin disini.
“ehhh...ana...” ujar ku.
“sebentar..” ujar ana dan meninggalkan ku dengan alvin.
“aku lega melihatmu baik-baik saja.. “alvin memulai perbincangan.
“iya... “ akupun tersenyum.
“kamu gak keberatan kan melihat aku tampil?” ujar alvin.
“iya.. “ jawab ku singkat.
“alvin... come on... kita prepare..” teriak salah seorang teman alvin dari belakang panggung.
“gih sana... kamu ditunggu.. aku gak apa sendiri, nanti juga ana kembali...” jelas ku.
Tanpa sepatah katapun ia meninggalkan ku.
Hari ini hari terakhir mungkin aku melhat mu, jika nanti kita bertemu entah aku akan bagaimana kepada mu, dalam hati ku berucap.
Akhirnya alvin dan band nyapun tampil membawakan sebuah lagu dari krispatih berjudul tertatih.
“lagu ini untuk seseorang yang tulus pernah memahami aku...” ujar alvin diatas panggung.
“dor.... udah mulai nyanyi yah?orang itu pasti kamu..” ujar ana mengagetkanku.
“jikapun itu aku, aku hanya bisa bilang semua sudah terlambat..” ujar ku.
Akhirnya ia selesai menyanyikan lagu itu, penuh perasaan ia nyanyikan lagu itu, aku hanya terdiam dan ku coba mengangkat kepalaku dan terus tersenyum menunjukkan aku baik-baik saja.
di keramaian ini kurasakan waktu berhenti sejenak disaat kulihat alvin hanya diam menatapku dari kejauhan..mata itu mengisyaratkan tanya..
"hei...apa salah ku?perasaan apa yang mengganjal di hati ku? kenapa hati ini sakit melihat mu tersenyum dan acuh dengan ku? kenapa?"
dengan senyuman ku.. aku menghampirinya dan ku berucap..
"aku ikhlas...sungguh ikhlas..ikhlas berhenti untuk menyukai mu.."
Dia hanya tertunduk dan aku pun berlalu...
for me i can't to back to that time.. time when i really care of you and still wishing one day i'll get your heart...now..you just my past memories and never have the way to back to fall in love with you anymore..
akhirnya kukatakan apa yang seharusnya aku katakan saat ku tahu kau bahkan tak bisa menyadari aku telah menempati hatimu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
thanks for comment... b^_^d