Kamis, 06 Januari 2011

cerpen Q -JANJI NENEK- dedicated to the contest with the theme of rain (tapi sayang ga masuk nominasi [:(] ..)

awan dilangit begitu gelap, dan anginnya pun berhembus sangat kencang disertai suara gemuruh dari halilintar yang menggelegar memecah kesunyian sore itu. Aku ara, sore ini aku berniat untuk menjenguk nenek ku yang dirawat disebuah rumah sakit di Jakarta, nenek ku sudah hampir dua minggu dirawat disana.. Hari ini pun kali pertama aku menjenguk beliau karena memang aku yang baru memiliki waktu untuk menjenguk beliau. Walau cuaca hari ini sangat tidak mendukung namun bagi ku inilah kesempatan untuk ku menjenguk beliau karena belum tentu aku dapat menjenguk nya lagi dilain hari aku memang tak punya waktu senggang yang cukup untuk bersama nenek karena aku berkerja sambil kuliah.
benar saja belum ada setengah perjalanan ku ke rumah sakit hujan pun turun dengan sangat deras menutupi pandangan mata ku, karena hujan begitu deras disertai angin yang bertiup cukup kencang itu aku putuskan untuk menepikan motor yang aku kendarai sekaligus berteduh dari derasnya hujan, aku memang mengenakan jas hujan, namun jika aku paksakan untuk tetap jalan mengendarai motor ku akan sangat membahayakan karena hujan yang turun menutupi pandangan mata ku, sehingga aku putuskan untuk bertepi disebuah halte bus yang saat itu penuh dengan para pengendara motor dan pejalan kaki lainnya.
saat aku berteduh disana aku melihat seorang anak kecil dan seorang wanita paruh baya sedang berteduh ditempat yang sama dengan ku. wanita itu menggendong gadis kecil itu dan memeluknya dengan sangat erat, aku mendengar anak itu menangis dan berkata,
“ nenek, ade takut..” lalu wanita paruh baya itu yang ternyata adalah nenek nya memeluknya dan berbisik “ ndak apa-apa toh ndok’ ada nenek disini “ lalu anak itu pun berpegangan erat dipundak sang nenek yang terlihat sedikit membungkuk itu, lalu aku mendengar suara lantunan nyanyian berkumandangan dari mulut wanita paruh baya tersebut yang menyanyikan lagu pelangi-pelangi, dan sang anak pun berhenti menangis dan menatap wajah neneknya itu. setelah lagu berakhir sang nenek mencium pipi cucunya dan berkata, “jangan takut ndok’, jangan menagis lagi, nanti setelah hujan reda kita bisa melihat pelangi bersama,” bujuk sang nenek yang berhasil membuat gadis kecil itu berhenti mengeluarkan air matanya. Mendengar ucapan sang nenek gadis kecil itu pun tersenyum dan berkata “nenek janji yah sama ade, nanti kita lihat pelangi bersama” jawab gadis kecil itu. Lalu sang nenek hanya tersenyum dan kembali memeluknya erat.
hal itu mengingatkan ku pada sosok wanita paruh baya yang kini berbaring tak berdaya dirumah sakit, ya aku teringat dengan sosok nenek ku, beliau lah yang selalu menemaniku karena kedua orang tua ku telah tiada, mereka meninggalkan ku saat aku masih bersekolah di bangku sekolah dasar, saat itu aku berusia sekitar 6 tahun dan kecelakaan itu terjadi ketika kedua orang tua ku hendak kerumah nenek ku yang saat itu tinggal di sukabumi. Mereka datang untuk menjemputku yang kebetulan menginap disana untuk menghabiskan masa liburan sekolah ku. Hari itu cuaca seperti ini langit begitu gelap dan angin yang bertiup sangat kencang disertai gemuruh halilintar,aku pun tidak dapat mengingatnya dengan baik tapi yang aku tahu kedua orang tua ku meninggalkan ku tepat ketika hujan turun. Hujan pun  turun dengan derasnya dan menyebabkan ayah ku yang sedang mngendarai mobilnya kehilangan kendali karena hujan telah menutupi jarak pandang beliau sehingga mobil ayah ku bertabrakan dengan mobil lain dan menyebabkan kecelakaan maut itu terjadi. Aku yang saat itu masih sangat membutuhkan mereka harus rela ditinggalkan dan menjadi seorang yatim piatu, dan nenek ku adalah satu-satunya orang yang selalu bersama dan menemaniku, beliau menjadi seorang ibu dan seorang ayah untuk ku, karena memang beliaulah satu-satunya keluarga yang aku miliki, beliau adalah ibu dari ayah ku dan orang tua dari ibu ku pun telah tiada dan aku adalah satu-satunya cucu beliau karena memang ayah ku adalah satu-satunya anak beliau. Aku pernah merasakan ketakutan yang sama seperti gadis kecil itu, dan aku juga memiliki sosok nenek yang selalu mlindungiku seperti wanita paruh baya itu jua. Dan hal sama yang membuat ku teringat dengan nenek ku adalah beliau pernah berkata hal yang sama bahwa kami akan melihat pelangi bersama. aku merasa sangat bersalah karena semenjak aku lulus SMA aku tidak pernah memiliki waktu sedikitpun untuk bersama nenek ku, jangan kan untuk bersama berbincang pun aku jarang karena memang jadwal kuliahku yang amat sangat padat, pagi-pagi sekali aku sudah berangkat dan aku pulang sudah sangat larut karena aku juga berkerja paruh waktu untuk membiayai kehidupan ku dan nenek, sampai saat nenek jatuh sakit pun aku tidak ada disisinya, aku masih bersyukur karena aku memiliki sesorang yang membantu ku menjaga nenek semasa aku berkerja dan kuliah selama ini sehingga saat nenek terjatuh sakit maka ia dengan cepat membawa nenek kerumah sakit dan menemaninya hingga saat ini, dia adalah sahabat ku irma.
Terdengar lantunan lagu opick yang berjudul assalamualaikum, ternyata suara hp ku berbunyi dan tertulis nama irma disana, dan aku pun mengangkat hp ku.
“ assalamu’alaikum,,,, ”
”wa’alaikumssalam...” jawab irma
” kamu dimana ra? nenek mencari mu ra, beliau bilang beliau kangen ra sama kamu..kamu jadi kan ra kerumah sakit?” tanya irma kepada ku.
” iya ma, ini aku lagi dijalan tapi kan kamu tahu hujan turun sangat lebat, aku kejebak hujan ma dan disini air mulai terlihat menggenangi jalan, aku harap aku bisa secepatnya kesana karena aku juga kangen sama nenek ma,,” jelas ku.
” ya sudah kamu hati-hati yah, jangan terburu-buru aku disini selalu menemani nenek kok ra, dan kamu jangan lupa tunggu sampai hujan mereda baru kamu jalan lagi ya ra.” suara irma yang terdengar sangat khawatir.
” iya ma, thanks banget ya ma, nanti aku usahaain cepat ma. maaf ya ma ngerepotin kamu terus, aku titip nenek ya ma.” tegas ku.
” iya ra, aku ngerti kok, kamu tenang aja, hati-hati yah ra” jawab irma.
” iya ma, nanti jika terjadi sesuatu hubungi aku ya ma.” pinta ku.
”pasti ra, ya sudah aku tutup dulu yah telfonnya, nenek memanggil” jawab irma
”assalamua’alaikum” tutup irma
”wa’alaikumssalam” jawab ku.
huajan mulai mereda dan semua orang yang berteduh satu persatu mulai beranjak Pergi dan meneruskan perjalanan mereka, aku pun demikian, aku melihat kembali kearah gadis kecil dan wanita paruh baya tersebut ternyata mereka pun sudah tidak ada di sana.
akhirnya setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan aku pun tiba dirumah sakit, ini sudah hampir 2 minggu aku tidak berjumpa dengan nenek. Aku melangkah dan masuk kedalam lift menuju lantai 3 dan setibanya dilantai 3 aku menuju kamar no 303, ya disanalah nenek ku dirawat. Saat aku masuk.
” assalamu’alaikum”,”wa’alaikumssalam” jawab irma,
”kamu rupanya ra? nenek sedang tertidur.” ujar irma.
aku tersenyum dan berkata ” iya ma aku tahu, makasih ya ma kamu dah mau jagain nenek ..” jawab ku.” iya ra gak apa-apa, sekarang aku lega kamu sudah sampai,,” tegas irma.
” berhubung aku sudah disini sekarang gantian ma, aku yang menjaga nenek, kamu lebih baik pulang dan istirahat sudah hampir 2 minggu selalu kamu yang menemani nenek, aku tahu kamu lelah ma, aku sudah minta cuti dan izin untuk tidak berkerja dan kuliah untuk menemani nenek selama nenek sakit jadi kamu bisa bergantian ma dengan aku, kamu sekarang bisa pulang dan istirahat.” jelas ku.
” iya..iya,,, jadi kamu ngusir aku ni ra..????” suara irma terdengar meledek aku.
”hahahahaha,,,, iya aku ngusir kamu, sana gih pulang...” ledekku.
” hehehehe,,, iya....iya,,,, aku pamit ya ra ” jawab irma.
lalu aku tersenyum menatapnya.
”assalamu’alaikum..” ucap irma
” wa’alaikumssalam,,, hati-hati ya ma, dan makasih ya untuk selama ini.” ujar ku lalu kulihat senyuman irma terlihat diwajahnya.
irma adalah sahabatku dari aku duduk dibangku SMA, irma selalu menemani nenek disaat aku tidak bisa bersamanya. Ia begitu baik, tanpa pamrih ia selalu menemaniku dan nenek. selain nenek ia lah orang yang mau mendengarkan keluhan ku. Aku bersyukur memiliki sahabat seperti dirinya.
jam ditangan ku menunjukan pukul 18:00 dan berkumandang lah suara adzan maghrib, ini sudah 1 jam aku menemani nenek yang tertidur pulas, aku sendiri tidak tega melihatnya, ia yang selama ini selalu ada melindungiku kini terbaring lemas di atas kasur itu, ia terlihat begitu kurus, dan wajahnya terlihat begitu sendu, saat ku matapnya ku lihat garisan berkerut diwajahnya yang dengan jelas menunjukan usia nya yang sudah tak muda lagi. Tanpa sadar kuteteskan air mata ku, aku merasa sangat takut jika beliau seperti itu, aku takut beliau tidak akan membuka matanya lagi, aku takut aku tidak dapat mendengar suaranya memanggil nama ku, aku takut tidak dapat melihat senyuman tulusnya, aku takut kehilangan dirimu nek... tanpa terasa tangisan ku membangunkannya, aku panik dan langsung menghapus air mata dipipiku ini. Lalu aku melihat beliau yang tersenyum dan menatap ku dalam. Sungguh susah bagiku menahan air mata ini.. aku lalu mencium kening nenek ku dan berkata,
” nek, ara kangen sama nenek..” ku lihat wajah sendunya dan kulihat ia menangis,,
”nek, kenapa nenek menagis?” tanya ku. ku hapus air mata beliau yang jatuh menetes di kedua pipinya, dan aku mendengar suara beliau yang begitu kecil berkata ” ra, nenek punya janji sama kamu kan ra?” aku terkejut dan menjawab.
” janji?sama ara nek?janji apa?” tanya ku pada beliau.
”ra lupa sama janji nenek?ra yang minta nenek berjanji sama ra..” jawab beliau dengan suara yang sangat kecil.
” janji nek?ara minta nenek janji sama ara? janji apa nek?”aku bertanya dan melihat beliau meneteskan kembali air matanya, dan berkata,
”ara pernah minta nenek berjanji melihat pelangi bersama, nenek takut jika nenek tak bisa menepati janji itu kamu akan marah dan benci sama nenek.”ujarnya dengan wajah ketakutan seolah aku kan marah karena melupakan janji yang beliau katakan.
”nenek jangan bicara seperti itu dong nek,ara jadi takut, ara gak akan pernah marah apa lagi benci sama nenek, jadi nenek jangan bicara seperti itu lagi ya ne, maaf ara selama ini gak pernah ada waktu nemenin nenek, ara gak bisa nek ninggalin kerjaan ara dan kuliah ara, sekarang nenek makan dulu yah, tadi suster dateng kesini bawa makanan nenek, habis itu minum obat, nanti ara yang suapin yah..nenek jangan mikirin janji itu dulu, yang penting nenek sembuh dulu yah, biar kita bisa bersama lagi, nanti ara janji jika nenek sudah sembuh dan keluar dari rumah sakit kita lihat pelangi bersama-sama ya nek, sekarang nenek makan dulu yah.”bujuk ku.
nenek lalu menatap ku dan mencoba menghapus air mata nya yang jatuh dipipinya. aku pun dengan segera membantunya menghapus air mata dan berkata. ”ara sayang sama nenek..” lalu ia pun mulai tersenyum dan berkata ” ra, kamu belum shalat kan, sana gih kamu shalat maghrib dulu, nanti waktunya keburu habis, biar nenek makan sendiri.” ucapnya. aku pun tersenyum dan berkata ” iya nek sekarang ara izin shalat dulu yah, nanti selesai ara shalat baru ara suapin nenek,nenek jangan makan sendirian tunggu ara ya nek sampai ara selesai shalatnya.” ia tersenyum dan berkata ”iya sayang..”
10 menit berlalu aku pun menyelsaikan shalat ku dan mulai menyuapi nenek.
” ra, kamu tadi sampai jam berapa? kenapa tidak bangunkan nenek?”tanya beliau.
” jam 5 nek ara sampai dirumah sakit, ara gak tega bangunin nenek, karena nenek terlihat begitu pulas pasti nenek kelelahan, makanya ara gak bangunin nenek.”
” nenek sempat takut ra waktu kamu ditelfon irma dan bilang bahwa kamu terjebak hujan, nenek ingat ra kamu paling takut sama hujan apa lagi gemuruh halilintarnya, tapi nenek bersyukur kamu tidak apa-apa.” jawab beliau.
” alhamdulillah nek, ara sudah tiba di sini dengan selamat, dan alhamdulillah juga ara sudah tidak setakut dulu sama hujan dan halilintar, itu semua karena nenek dulu selalu memberitahu ara jika ara tidak takut ara bisa melihat pelangi, dan sejak saat itu ara mencoba tidak takut lagi nek dengan hujan” aku tersenyum setelah menjelaskannya.
”alhamdulillah..”jawab nenek.
”nek ara kan temani nenek sampai nenek sembuh yah..”
”tapi ra gima kerjaan sama kuliah kamu??” tanya nenek kepada ku
” gak apa-apa nek, ara sudah izin kebetulan ara gak pernah cuti di kerjaan jadi ara bisa ambil cuti panjang,, makanya nenek jangan bandel kalo dibilangin dokter, biar nenek bisa cepet-cepet keluar deh dari sini dan main sama ara..” lalu nenek menjawab..
”amin,, insyaallah...”
jam pun terus berjalan waktu menunjukan pukul 22:00 dan aku lihat nenek sudah mulai tertidur, lalu ada seorang suster masuk memangil ku..
”maaf mba, Dr. adi ingin bertemu dengan mba, beliau bilang ada yang ingin beliau sampaikan dengan mba ara karena kebetulan mba ara sedang ada disini menemani nenek.” lalu aku menjawab ” iya sus, saya titip nenek dulu yah sus sebentar.”
aku mulai meninggalkan ruangan tempat nenek dirawat dan berjalan menuju ruangan dokter. setibanya disana Dr. adi menyuruh ku duduk dan beliau menyampaikan hal yang membuat ku tidak dapat berfikir jernih.
” ra, sebenarnya saya ingin menyampaikan hal ini sudah dari 3 hari yang lalu, tapi kamu tidak pernah datang.” ujar sang dokter.
” dok kenapa semua begitu cepat?” tanya ku..
”tapi ra kanker ditubuh nenek kamu memang sudah tidak dapat disembuhkan, saran saya lebih baik kamu bawa nenek kamu keluar dari rumah sakit dan temani ia sampai sisa waktu yanga ada.”
enteng sekali dokter itu berbicara seolah tidak mengerti perasaan aku yang sedang kacau ini, lalu aku menjawab
” maaf dok, dokter bukan tuhan yang dapat memutuskan umur seseorang dan dokter bukan tuhan yang tahu segalanya!!” bentakku dengan air mata yang jatuh menetes dipipi ku.
”astaghfirulloh ara...kamu jangan bicara seperti itu, saya memang bukan tuhan dan saya hanya memberikan hasil diagnosa dari penyakit yang diderita nenek mu, saya mengerti perasaan kamu ra, tapi saya tidak dapat berbuat apa-apa lagi dan semua hal yang saya bisa sudah saya lakukan secara maksimal untuk menyembuhkan nenek kamu ra. maafkan saya..” jawab beliau..
”maaf dok, saya khilaf,,, saya akan membawa nenek keluar dari RS ini besok, dan terimakasih dok selama ini sudah menangani nenek dengan baik, saya mohon maaf jika selama ini nenek telah banyak merepotkan,” ujar ku.
” iya ra, saya sudah mencoba semaksimal mungkin namun memang hasil lab tidak dapat dipungkiri, semua virus sudah menggerogoti tubuh nenek mu, sekarang ia mulai kehilangan sebagian fungsi tubuhnya, ia tidak dapat berjalan dan melihat dengan jelas, saya harap kamu bisa menjaganya dengan baik ra.” jelas dokter adi pada ku.
”insyaallah dok saya pun kan memberikan yang terbaik untuk nenek.” permisi dok.. ”assalamua’alaikum..” wa’alaikumsallam..”jawab beliau.
aku berjalan meninggalkan ruangan dokter itu dan melangkah menuju kamar nenek. Kanker otak yang nenek derita selama bertahun-tahun itu telah habis menggrogoti tubuh nya yang semakin lama semakin melemah, aku ingat waktu pertama kali penyakitnya aku ketahui, beliau yang selalu pergi diam-diam mengikuti terapi membuat ku tidak mengetahui penyakitnya sampai akhirnya aku melihat beliau menangis menahan rasa sakit dikepalanya dan pada saat itu juga aku melihat rambutnya yang semakin lama semakin menipis aku pun terkejut ketika aku tahhu ia mengidap penyakit kanker, setiap saat ia tidak pernah lepas dari obatnya dan ini bukan kali pertama ia dirawat. Aku pun selalu berharap dapat meringankan beban dan rasa sakitnya, namun aku tidak dapat melakukan itu semua. Lama aku berjalan kulihat no 303 terpampang jelas didepan pintu, kubuka pintu dan ku dekati beliau yang sedang tertidur. Saat itu juga aku tidak dapat berhenti meneteskan air mata ku, aku berusaha tidak bersuara dan menagis menutupi mulut ku, aku takut akan membangunkannya. aku memandangnya dan terus memandanginya sampai pagi menjelang tanpa tidur aku memandangnya seolah takut lengah akan dirinya. Saat pagi menjelang dan irma tiba di RS aku memeluk irma dengan keras dan menangis tersedu samapai irma menenangkan ku dan berkata,
”ra, kamu temani nenek sampai ia bangun dan kamu rapikan ia, aku akan mengurus semua kelengkapan RS agar ia bisa cepat keluar ra dari RS.” irma mencoba menenangkan ku.
”iya ma, thanks ya ma,,,” jawab ku.
jam ditangan ku menunjukan pukul 7: 45 dan nenek pun terbangun ia memanggil ku,
“ra,,,ara,,,ara.... “
“iya nek, ara ada disini..” jawab ku mendekati beliau yang memang jarak pandangnya sudah tidak baik.
“nenek semalam mimpi indah sekali ra, nenek bermimpi nenek bisa berjalan lagi dan nenek pergi bertamsya bersama kamu dan irma, nenek senang sekali..” jawabnya. aku yang mendengar perkataan itu seolah tidak dapat menahan air mata ini namun aku berusaha mencoba bertahan dan menjawab..
“amin... insyaalllah ya nek, hari ini kata dokter nenek sudah boleh pulang, nanti jika hari cerah kita pergi tamasya ya nek, aku, nenek,dan irma.” dengan senyuman aku meyakinkan nenek. nenek pun tersenyum.
tepat pukul 09:00 kami bertiga pergi meninggalkan RS.
”ra..nenek ingin sekali pulang kesukabumi dan bertamsya disana..”
” iya nek ara siapkan dulu yah perlengkapannya setibanya dirumah nanti...” jawab ku
” ma, kamu ikut juga yah,,, nenek ingin sekali bertamasya bertiga sama kalian,,,” ujar nenek...
” iya nek.... insyaallah irma ikut..”
akhirnya kami tiba dirumah, dan seperti janji ku pada nenek aku lalu mulai menyiapkan barang bawaan yang akan kami bawa lalu irma pun menelfon penyewaan mobil untuk menyewa mobil.
tepat pukul 01:00 kami berangkat dari jakarta menuju sukabumi, 5 jam perjalanan kami telah tempuh akhirnya tiba juga dirumah nenek pas sekali dengan terdengar nya suara adzan maghrib.
ku lihat nenek tertidur dan aku pun membangunkannya.
”nek..bangun nek,kita sudah sampai...” ujar ku,
” alhamdulillah....” ia pun terbangun dan menjawab syukur karena kami telah tiba sampai tujuan dengan selamat.
”irma dimana?” tanya beliau pada ku, “irma sedang menaruh tas nek kedalam rumah, hayoo nek sekarang biar aku papah naik ke kursi roda yah..” jawab ku.
” iya sayang....” jawab nenek.
hari semakin lama semakin gelap dan suasana dingin hinggap disini, aku menyelimuti nenek yang sedang duduk dikursi roda tepat diteras luar rumah nya.
”nek,hari sudah larut, dan diluar sangat dingin, sekarang nenek masuk ya, lalu nenek tidur, besok pagi-pagi sekali kita pergi jalan-jalan yah...” bujuk ku.
”ra, kamu sudah dewasa sekarang, kamu sudah bisa jaga diri kamu sendiri ra, sekarang nenek tenag ra..”
”nenek ngomong apa?kouq nenek ngomongnya kaya gitu, jangan bikin ara takut dong ne..”jawab ku.. lalu nenek hanya tersenyum dan dengan suara yang kecil ia berkata.
”siap gak siap semua titipan ALLAH SWT, maka semua yang dari Nya akan kembali pada Nya.”
”nenek,,,” dengan wajah sendu aku menatapnya, ia pun hanya tersenyum dan mengajak ku masuk.
” hayoo ra, nenek sudah mengantuk dan ingin segera tidur.” tanpa sadar kuteteskan air mata ku dan membawa nenek masuk kekamar untuk tidur.
Adzan subuh terdengar menandakan pagi sudah menjelang, ketika adzan berhenti aku pun mengambil air wudhu, setelah selesai aku berwudhu  ku lihat nenek sedang khusu menjalankan shalatnya. Aku pun menyusul nya shalat, ketika selesai menjalankan ibadah ku mandikan nenek dengan waslap dan menepati janji ku untuk membawanya berjalan-jalan bersama irma.
”wah cerahnya, udaranya pun begitu sejuk sangat beda sekali dengan jakarta..” ujar irma...
”iy.... kalau di Jakarta mah pasti sudah bau asap kendaraan nih ma jam segini...”jawab ku...
”hahahahahaha”kami tertawa bersama.
”ra, tolong ambilkan nenek payung hitam besar yah didalam kamar..” pinta nenek..
”tapi nek?” jawab ku...
”ambil saja ra... mungkin takut cuaca berubah mendung, nanti jika turun hujan kita tidak akan kehujanan..” balas irma...
tanpa berfikir macam-macam aku langsung mengambilnya.
tanpa terasa kami bersenang senang dan hari sudah terlihat gelap, benar saja mendung telah menyelimuti langit. seketika petir pun berbunyi bersautan, nenek menggenggam erat tangan ku kami masih berada digunung dan akhirnya hujan pun turun, ku buka payug hitam nenek dan kami memakainya, payung itu cukup besar sehingga kami bertiga bisa berteduh dibawahnya, tapi aku tetap membawa nenek ke tempat yang lebih aman, tidak licin dan tidak  dekat dengan pohon, kebetulan ada mushola yang memang disediakan pemerintah di daerah sini, akhirnya kami putuskan berteduh disana. 2 jam berlalu tepat pukul 15:45 sore hujan pun berhenti, nenek hanya mengenggam erat tangan ku tanpa berkata sepatah kata pun, tiba-tiba terdengar suara adzan, kami pun melaksanakan shalat ashar berjamaah. setelah kami selesai shalat nenek tiba-tiba memanggilku, lalu ia berkata,” ra, nenek ingin menepati janji nenek sama kamu ra,,”
aku pun tidak dapat berkata apa-apa lagi dan hanya dapat menganggukan kepala ku,,
” antar nenek jalan-jalan yah ra sebentar lagi saja, sampai kita menemukan pelangi baru antar nenek pulang,” ujar beliau pada ku.
sekitar satu jam aku dan irma membawa nenek berkeliling mencari pelangi, namun tak ada satupun pelangi yang muncul, nenek pun terdiam dan meneteskan air matanya.
”nenek lelah ra, maaf kan nenek ya ra...” aku menagis melihatnya menangis, lalu irma memeluk aku dan nenek, tiba-tiba kudengar nenek berbisik,, ”buka payung hitam nya ara, sebentar lagi pelanginya akan muncul dan nenek bisa pulang.” benar saja pelangi muncul nenek tersenyum dan berkata ”alhamdulillah akhirnya janji ku sudah terpenuhi..” ku lihat ia tersenyum begitu indah dan berlahan menutup matanya,saat ku sadar ia pun pergi untuk selamanya, di bawah payung hitam kami melihat pelangi bersama seperti janji beliau pada ku, dan yang membuatku terkejut pelangi pun pergi seolah mengantar nenek ku pergi, hujan pun turun dan dibawah payung hitam, di temani hujan, ku lepaskan kembali orang yang kucintai meninggalkan ku untuk selamanya.... terimakasih nek ... inailaihi wa’inailaihi roji’un.... kata terakhir yang irma dan aku ucapkan melepaskan kepergian nenek kami tercinta.
 BY HILDA AKBARIAN (IEDHA)

chat with me... d^0^b

Mengenai Saya

Foto saya
JAKARTA, JAKARTA SELATAN, Indonesia
aku adalah seseorang yang cinta sekali dengan menulis, walapun pemula menulis bagi ku adalah cara mengekspresikan diri ku kepda orang lain, karena dengan menulis banyak hal yang akan kita berikan kepada orang lain yang membacanya terutama tulisan yang dapat memberikan manfaat bagi semua pembacanya...